PendidikanSeni Budaya

Utsawa Bali Sani XI 2026 Resmi Dibuka : Menjaga Keberlanjutan Seni,Budaya,dan Pengetahuan Tradisional Bali

DENPASAR, iBaliNews.Com – ​Gelaran Festival  Budaya Utsawa Bali Sani XI Tahun 2026 yang digelar Universitas Hindu Indonesia (UNHI) resmi dibuka. Ajang yang sempat vakum selama enam tahun ini dibuka Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon pada Kamis (24/09/2026) di Kampus UNHI Denpasar.

Festival ini digelar sebagai ruang perjumpaan strategis dalam memperteguh komitmen pelestarian seni dan budaya Bali. Mengusung tema besar “Praba Niti Widya Sani Prawartana”, ajang ini menegaskan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, dan lembaga budaya untuk menguatkan ekosistem kebudayaan yang berkelanjutan di tengah dinamika global.  

​Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Universitas Hindu Indonesia (UNHI) dan Yayasan Pendidikan Widya Kerthi atas konsistensi mereka melestarikan Seni Budaya lewat gelaran Utsawa Bali Sani. Menurutnya, kebudayaan bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan bagian hidup yang terus mengalir dalam keseharian masyarakat.  

​

“Melalui pendidikan, apresiasi, dialog, dan penciptaan karya, Utsawa Bali Sani ini menjadi ruang perjumpaan yang menumbuhkan kesadaran bahwa kebudayaan merupakan bagian yang hidup dalam keseharian kita. Kegiatan seperti inilah yang membuat budaya kita tetap hidup, lestari, dan berkelanjutan. Ini adalah tugas kita bersama.” Ujar Fadli.

​Fadli juga menegaskan kembali amanat konstitusi Pasal 32 Ayat 1 UUD 1945 serta Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan. Ia menyoroti akselerasi pencatatan warisan budaya nasional yang mengalami peningkatan signifikan, serta pentingnya memanfaatkan kekayaan budaya sebagai pendorong ekonomi sirkular.  

Baca Juga:  Raih Gelar Doktor Ilmu Agama dan Kebudayaan UNHI, Tjok Ibah Sebut Upacara Yadnya Sebagai Yoga Kolektif 

​”Sumber daya alam seperti batubara atau nikel suatu saat akan habis, tetapi kebudayaan tidak akan pernah habis selama ada manusianya dan ekosistemnya terus tumbuh. Kita ingin menumbuhkan ekonomi budaya sirkular. Bali sendiri sudah menjadi jendela utama pengenalan budaya Indonesia di tingkat internasional melalui predikat mega cultural diversity kita.” Tegas Fadli.

Sinergi dan Peran Perguruan Tinggi

​Mengutip tema Utawa Bali Sani XI 2026, “Prabha Niti Widya Sani Prawartana” (Semangat Bersama Mengembangkan Ilmu Pengetahuan dan Seni), Fadli Zon mendorong perguruan tinggi, khususnya UNHI, untuk mengambil peran aktif dalam institutionalisasi warisan budaya dan pengetahuan tradisional.  

​Sebagai bentuk dukungan nyata, Fadli nenyebut pemerintah menyiapkan alokasi Dana Indonesia Raya hingga Rp500 miliar untuk memfasilitasi para seniman, budayawan, dan komunitas dalam memajukan kebudayaan nasional.  

​Jejak Panjang dan Kontribusi Historis UNHI

​Rektor UNHI, Cokorda Gde Bayu Putra memaparkan perjalanan panjang UNHI yang mendasari pelaksanaan kegiatan kebudayaan ini. Memasuki usia ke-63 tahun pada Oktober 2026, UNHI berakar dari semangat para cendikiawan Hindu sejak Piagam Campuhan 1961 hingga berdirinya Mahawidya Bhawan Institut Hindu Dharma (IHD) pada 1963.  

“UNHI bukan sekadar lembaga pendidikan tinggi swasta biasa. UNHI merupakan pondasi yang turut membangun dan mewarnai sejarah perjalanan Hindu modern di Indonesia. Dalam konteks Dharma Agama dan Dharma Negara, UNHI senantiasa hadir membumikan nilai-nilai Dharma melalui media pendidikan, budaya, seni, dan teknologi informasi.” Ungkap Rektor Cok Bayu.

Baca Juga:  Bupati Adi Arnawa Nodya Karya Pasupati Lingga Arcana Di Pura Kayu Putih Banjar Pasekan, Tangeb

Pola Ilmiah Pokok dan Festival Utsawa Bali Sani

​Di tengah persaingan antar-perguruan tinggi yang makin ketat, UNHI tetap konsisten berdiri di atas Pola Ilmiah Pokok Agama dan Kebudayaan. Salah satu wujud nyata dari komitmen tersebut adalah penyelenggaraan kembali Festival Utsawa Bali Sani.  

​Festival seni yang pertama kali digagas pada tahun 2010 oleh Rektor UNHI terdahulu, Prof. Dr. Ir. Ida Bagus Gede Yudha Triguna, M.S., ini menjadi ruang perjumpaan antara kegairahan ilmiah dan ekspresi kebudayaan.  

​”Utsawa Bali Sani merupakan penawaran lompatan paradigma berkesenian. Seni bukan sekadar hiburan atau komoditas pasar, melainkan ekspresi pemuliaan dan pengabdian melalui kerja ikhlas yang kita sebut ngayah,” terang Rektor UNHI.  

​Menyelaraskan Rasio dan Rasa (Satyam, Siwam, Sundaram)

​Dalam sambutannya, Cok Bayu menekankan pentingnya keseimbangan antara rasio (logika) dan rasa (nurani) di era modernisasi. Jika peradaban hanya dituntun oleh rasio semata, manusia berisiko kehilangan empati dan kepekaan moral.  

​Oleh karena itu, melalui tema usungan Utsawa Bali Sani tahun ini, Prabaniti Widyasani Prawartana, UNHI mengajak seluruh civitas akademika dan masyarakat untuk menghidupkan kembali nilai Satyam, Siwam, Sundaram.

​”Penyatuan antara rasio dan rasa inilah yang melahirkan kesenian Bali yang adiluhung, dari tradisi sastra seperti kakawin dan geguritan, hingga tabuh gambelan. Seni menjadi media untuk memperhalus budi pekerti dan menyebarkan pesan harmoni,” tambahnya. 

Baca Juga:  Rahina Tumpek Landep, Klungkung Pamerkan 137 Keris Pusaka

Apresiasi Kepada Pemerintah

​Pada kesempatan tersebut, Cokorda Bayu Putra juga menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia atas berbagai program prioritas seperti revitalisasi cagar budaya, museum, repatriasi benda budaya, hingga pendanaan bagi para pelaku seni. Apresiasi senada turut disampaikan kepada Pemerintah Provinsi Bali serta Pemerintah Kabupaten/Kota di Bali atas komitmen menjaga kelestarian adat, seni, dan agama Hindu.  

​Seni dan Pengetahuan: Dua Sisi Mata Uang

​Ketua Yayasan Pendidikan Widya Kerthi, Kol. Purn. Dr. Drs. Dewa Ketut Budiana, M.Fil.H.  menekankan makna mendalam di balik tema Utsawa Bali Sani XI 2026, yaitu “Praba Niti Widya Sani Prawartana”. Tema ini mengandung pesan bahwasanya pengembangan ilmu pengetahuan dan kesenian tidak dapat dipisahkan satu sama lain.  

“Tema Utsawa Bali Sani XI dimaknai sebagai semangat bersama dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan seni. Keduanya bagaikan dua sisi dari satu mata uang yang sama. Pengembangan pengetahuan dan kesenian memerlukan keterlibatan serta kerja sama erat dari seluruh lapisan masyarakat.” tegasnya. 

Setelah dibuka, Gelaran Utsawa Bali Seni XI 2026 akan berlangsung dari tanggal 24 – 29 September 2026 dengan sejumlah rangkaian acara seni dan budaya. (iB1/Lan)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *