Bali

Widminarko Berbagi Pengalaman 56 Tahun di Dunia Jurnalistik, Tekankan Wartawan Untuk Gemar Membaca dan Menonton

DENPASAR, iBaliNews.Com – Wartawan Senior Widminarko berbagi kisah dan cerita perjalanan panjangnya selama 56 tahun di dunia jurnalistik. cerita tersebut disampaikan ketika menjadi narasumber dalam kegiatan Orientasi Kewartawanan dan Keorganisasian (OKK) PWI Bali, Kamis (20/08/2026) di Gedung PWI  Bali Lumintang Denpasar.

Widminarko menceritakan perjalanan awal di dunia Jurnalistik yang dimulai ketika ia melamar di media Suara Indonesia. Meski belum memiliki keterampilan menulis berita, tekad sangat kuat untuk bekerja sambil belajar. 

“bekal saya satu-satunya adalah niat dan semangat untuk menjadi wartawan dan ternyata bekal ini sangat manjur. Hanya karena niat dan semangatlah kemudian saya bisa menjadi wartawan terus-menerus.” Ungkap Widminarko dihadapan ratusan wartawan.

Ia menceritakan sempat berada di posisi yang sangat dilematis saat merangkap tiga peran sekaligus yakni Penanggung Jawab media Suluh Marhen, pegawai Jawatan Penerangan, dan Ketua Fraksi PNI di usia 25 tahun.

Keterikatan pada garis politik praktis tersebut lambat laun menimbulkan pergulatan batin bagi dirimya.

 “itu saya anggap bertentangan dengan batin saya. Sejak itulah saya bertekad, kalau saya jadi wartawan, jadilah wartawan independen dalam pengertian tidak aktif lagi dalam kegiatan politik praktis,” tegasnya penuh semangat.

Baca Juga:  Gelar FGD, Langkah Strategis SMSI Dorong Indonesia Jadi Pusat Finansial Bertaraf Internasional

Widminarko lantas mengingatkan bahwa keterlibatan wartawan dalam politik praktis akan memicu dilema besar karena partai politik mengusung kepentingan kelompok. Sebaliknya, wartawan tetap dianjurkan aktif dalam organisasi kemasyarakatan nonpolitik guna memperluas wawasan dan memperkuat keterikatan dengan masyarakat.

Selain kisah awal dan pertentangan batin, Widminarko juga menceritakan tentang penyeimbangan antara idealisme berita dengan bisnis. Hal tersebut ia terapkan pada tahun 1988 yang telah mulai mengenal artikel sponsor atau advetorial. 

“Sebelumnya itu masih tabu itu kalau artikel membayar itu. Tapi tahun 88 ketika ada kredit profesi guru, di mana tiap guru diberi kesempatan untuk pinjam dan mendapat kredit Suzuki ya, itu tahun 88, maka saya meliput itu kemudian saya muat di Bali Post sebagai artikel sponsor. Jadi perusahaan itu membayar ke Bali Post, ada pemasukan” Kenangnya

Namun sinergi idealisme pers dengan bisnis pada saat tahun 1988 belum berkembang dan mulai berjalan maksimal pada tahun 1998 ketika dirinya memimpin Koran Tokoh. Saat itu Wartawan, Redaktur juga menjadi marketing. Sehingga setiap akhir tahun, dirinya rutin mengecek wartawan yang mencapai target iklan, dan yang nilainya besar diberikan hadiah liburan ke luar kota.

Baca Juga:  Mitigasi Risiko Dalam Pariwisata Sebagai Strategi Untuk Keberlanjutan

“Tapi sebagai wartawan itu mengetahui seluk-beluk bisnis iklan, tahu bahwa pendapatan koran itu paling besar waktu itu ya, pelanggan, kedua pembeli eceran, dan ketiga iklan. Dan pendapatan iklan ini harus paling besar, kalau tidak begitu maka bisnis koran itu akan mati di tengah jalan.” Ujarnya lagi.

Pria yang diberi julukan mahaguru jurnalis ini lantas menjelaskan prinsip dasar dan gaya jurnalistik yang wajib berdasarkan fakta bukan imajinasi atau karangan.

Dijelaskanya fakta yang ditulis harus jelas, baik berupa fakta kejadian, pernyataan seseorang maupun kutipan fakta.

“Derajatnya ada fakta primer, yaitu fakta yang bisa ditangkap oleh panca indra, ada fakta sekunder, fakta di balik fakta primer. Mungkin ada banjir, ternyata kita temui fakta lain bahwa orang laki-perempuan sedang menjadi korban meninggal, ternyata dia adalah pengantin baru. Itu fakta sekundernya yang kadang kan lebih menarik daripada fakta primernya. Wartawan harus mampu menggali fakta-fakta sekunder. Dan ketiga, fakta tersier, yaitu fakta masa lalu yang kita aktualkan kembali sesuai momentum” Terang Widminarko.

Baca Juga:  Perkuat Integritas dan Etika Jurnalistik, PWI Bali Gelar OKK

Diakhir sesi pemaparan materi, Ia membagikan kiat sukses menjadi wartawan yang ditulisnya pada tahun 1980an. Diterangkannya, seorang wartawan harus gemar membaca, mendengar, mencatat dan menonton untuk dapat mengembangkan wawasan.

“Wartawan harus gemar membaca. Jadi kalau ada wartawan yang enggak gemar membaca ya, salah. Kedua, gemar mendengar. Menjelaskan apa yang perlu kita sampaikan yang bisa kita dengar. Dan ketiga, gemar menonton. Apa saja yang kita tonton, tonton saja! Karena dari situlah wawasan kita akan tumbuh dan berkembang dan bertambah.​Pagi meliput berita, sore nonton sepak bola, malamnya nonton teater, silakan! Dari situ kita akan mendapatkan wawasan yang berbeda.” Tutupnya. (ib1 / Lan)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *