Pendidikan

Peringati Satu Abad Peristiwa Rarud Batur, Tim UNHI Persembahkan Buku “Sandyakala Huluning Toya”

DENPASAR, iBaliNews.Com – Universitas Hindu Indonesia meluncurkan karya akademisi berjudul “Sandyakala Huluning Toya: Refleksi 100 Tahun Relokasi Batur” di Madya Mandala Pura Ulun Danu Batur. Peluncuran buku diawali dengan pementasan garapan kesenian dengan tema “Renaning Rat: Pemuliaan Danau Sebagai Ibu Semesta”. Acara peluncuran buku disaksikan Rektor UNHI beserta jajaran pimpinan struktural UNHI, Ketua Pengurus Yayasan Pendidikan Widya Kerthi, Ketua Senat UNHI, Jero Penyarikan Duuran Batur, para penulis dan pembedah buku.

Dalam sambutannya, Rektor UNHI Dr. Cokorda Gde Bayu Putra, S.E M.Si, menyampaikan bahwa buku Sandyakala Huluning Toya, merangkum sebuah kesadaran mendalam. Huluning Toya—hulu atau pusat sumber air—bukan sekadar identitas geografis Batur sebagai jantung vegetasi dan pasokan air bagi Bali, melainkan fondasi peradaban Subak dan spiritualitas Bali. “Melalui peringatan rekam jejak 100 tahun ini, kita tidak hanya diajak menengok masa lalu, melainkan membaca masa depan peradaban air kita,” paparnya.

Ditambahkan, seratus tahun—satu abad—memang bukanlah waktu yang pendek. Ini adalah rentang waktu yang menyimpan kisah ketangguhan, ketahanan budaya, air mata, gotong royong, dan spiritualitas yang tak pernah padam. Buku ini hadir bukan sekadar sebagai catatan kronologis atas peristiwa perpindahan fisik masyarakat Batur akibat letusan dahsyat Gunung Batur pada tahun 1926, melainkan monumen naratif yang merekam bagaimana sebuah peradaban mampu bangkit dari puing-puing bencana, menata ulang kehidupan, merawat warisan kultural, dan berupaya memetakan problem saat ini dan di masa yang akan datang.

Baca Juga:  Gencarkan Program KEJAR OJK, BPD Bali Undiknas Rector Cup Literasi Kalangan Pelajar dan Mahasiswa

“Sebagai perguruan tinggi yang masih memegang teguh pola ilmiah pokok agama dan kebudayaan, Universitas Hindu Indonesia (UNHI) tentu punya kepentingan terhadap Batur dan berupaya ikut serta menyumbangkan diskursus akademis memperingati seabad relokasi Batur,” jelas Rektor UNHI.

Bagi UNHI, lanjut Dr Cokorda Bayu Putra, Batur bukan sekadar ruang fisik yang di dalamnya terdapat gunung dan danau, Batur adalah sebuah laboratorium peradaban hulu Bali dan ruang studi yang tiada habisnya untuk dipelajari. Di dalamnya terdapat pelajaran berharga tentang resiliensi sosio-kultural-religius. Kemampuan adaptasi di tempat yang baru (Kalanganyar) membuktikan bahwa identitas kultural, spiritualitas dan keguyuban adalah fondasi kuat dalam menghadapi krisis.

“Kami juga memandang penulisan buku ini sebagai wujud tanggung jawab moral dan intelektual. Secara kesejarahan, UNHI lahir melalui inspirasi di titik pertemuan air (Campuhan Ubud), ketika para maha kulina Bali, narawidya, para cendekiawan mecampuh dalam satu agenda penting: dharma asrama. Di titik pertemuan air yang bersumber dari Batur inilah inspirasi itu lahir, sehingga melahirkan kesepakatan mendirikan asrama pengadyayan dengan nama Maha Widya Bawana sebagai cikap bakal dari UNHI”, papar Rektor termuda di Bali ini.

Baca Juga:  Mahasiswa Unud Ida Ayu Made Intan Pujawati Terpilih Menjadi Duta Petani Muda Kementerian Pertanian 2025

Bisa dikatakan, “UNHI” adalah pasihan lain dari Batur. Jika dalam sistem pasihan subak-subak yang menerima aliran “kasih” dari Dewi Danu menghaturkan sarin tahun berupa pangan dan hasil sawah, sebagai lembaga yang juga lahir dari inspirasi di titik pertemuan air, UNHI berupaya menghaturkan “candi pustaka” sebagai wujud Jnana Yadnya pada Dewi Danu. Jika bisa diibaratkan, UNHI adalah “jineng sastra”—tempat menyimpan sari-sari pengetahuan yang bisa dipanen oleh orang yang senantiasa suntuk bertani di ladang sastra.   

Melalui buku ini, akademisi UNHI mencoba melakukan pembacaan lain terhadap Batur dari berbagai sudut pandang keilmuan, baik dari sisi agama, kebudayaan, hukum, ekonomi, termasuk di dalamnya adalah aspek pendidikan, kesehatan dan tata ruang Batur.

Tentu saja apa yang tersaji dalam buku ini tidak sekadar memfokuskan diri pada narasi masa lalu, namun juga berupaya memotret kondisi masa kini dan memberi refleksi untuk menatap masa depan. Dengan cara menelusuri peristiwa masa lalu, memotret problem masa kini, dan memetakan tantangan di masa depan masyarakat Batur bisa menyiapkan strategi sosio-kultural untuk menghadapinya.

Baca Juga:  PKM UNHI di Pokdarwis Segara Ramsi, Wujud Komitmen Dukung Kegiatan Masyarakat

Oleh karena itu, sebagai Rektor, Dr. Cokorda Gde Bayu Putra memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada tim penulis yang telah bekerja keras merampungkan buku ini. Semua sumbangan pemikirannya tentu sangat berharga bagi masyarakat Batur dalam upaya melihat Batur dari perspektif yang lain.

“Kepada Jero Gde Batur Duhuran, punike naler Jero Penyarikan Duuran Batur, Jero Penyarikan Alitan, Guru Karaman saha panglingsir Batur sane lianan yang telah bersedia memberikan informasi kepada para penulis buku ini, titiang sampaikan ucapan terimakasih yang sebesar-besarnya. Tentu tanpa dukungan para informan, para penulis tidak bisa mendapatkan informasi yang lengkap perihal Batur masa lalu dan masa kini,” paparnya.

Akhir kata, Rektor UNHI mengucapkan selamat atas terbitnya buku ini. Semoga spirit perjuangan, ketahanan kultural, dan keberlanjutan peradaban spiritual Batur pasca menghadapi bencana dahsyat yang terekam dalam buku ini dapat menginspirasi kita semua dalam menghadapi tantangan zaman di masa depan. (iB1)

Editor : Adi Purnama

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *