Teknologi

HRCON 2026 Resmi Digelar, Soroti Masa Depan SDM Ditengah Perkembangan AI dan Transformasi Hospitality

BADUNG, iBaliNews.Com – Untuk kesembilan kali berturut-turut, komunitas HR yang tergabung dalam Human Resources Association (HRA) Bali kembali menggelar kegiatan yang bertajuk Human Resources Convention (HRCON) 2026, Sabtu (15/8/2026), di Renaissance Bali Uluwatu Resort & Spa. Mengusung tema “Humanizing the Digital Future. Embracing the Entrepreneurial Mindset”, kegiatan ini menyoroti masa depan sumber daya manusia (SDM) di tengah pesatnya perkembangan artificial intelligence (AI) dan transformasi industri hospitality.

Digelar sejak tahun 2017, kali ini HRCON tersebut diikuti lebih dari 300 peserta dari kalangan profesional human resources dan hospitality dari berbagai daerah di Indonesia.

Rangkaian acara diawali dengan opening act “Suara yang Menyalakan Masa Depan”, yang membawa suara komunitas HR Bali mengenai perubahan, tantangan talenta, keberanian meninggalkan cara lama, perkembangan teknologi, sekaligus pentingnya menjaga sisi manusia.

Sesi utama kemudian menghadirkan sejumlah pembicara, antara lain Rina Sarif dengan topik “From Identity to Impact: Winning the AI Era Through Purpose & Human Potential”. Ia mengajak peserta kembali pada identitas, purpose, karakter, dan potensi manusia sebagai fondasi untuk menghadapi era AI. Pesannya sederhana namun mendasar: transformasi digital tidak boleh menjauhkan organisasi dari kemanusiaan; teknologi seharusnya memperkuat manusia, bukan menggantikannya.

Dari purpose, pembahasan bergerak menuju mindset. Gemini Aryanto, M.Si., GPHR, Group Chief People & Culture Officer Kopi Kenangan, membawa perspektif “Entrepreneurial Leadership Mindset in Service Industry” tentang pentingnya ownership, agility, keberanian mengambil keputusan, inovasi, dan business awareness dalam kepemimpinan industri jasa. Di tengah disrupsi yang tidak lagi bersifat sementara, people ditempatkan sebagai growth engine — kekuatan yang membuat organisasi tetap adaptif, relevan, resilient, dan mampu menciptakan pertumbuhan yang berkelanjutan.

Tiga perspektif tersebut kemudian diperdalam melalui dua strategic panel. Panel pertama, “From Mindset to Workforce Readiness: Building Talent for the Next Era”, mempertemukan perspektif corporate, education, dan realitas hospitality Bali. Bersama Drs. I Wayan E. Ginastra, Dwi Sunu Widyo Pebruanto, S.Pd., M.Ed., Ph.D. , dengan Peggy Putri sebagai Session Host, percakapan berfokus pada bagaimana talenta masa depan tidak cukup hanya siap bekerja, tetapi harus siap mengambil ownership, memecahkan masalah, berinovasi, dan menciptakan value. Panel kedua, “Create Clarity, Reach for Impact”, dipandu oleh Bambang Yapri, M.Pd., PCC, bersama Wiwik Wahyuni, Dr. Ni Made Ayu Sulasmini, S.Pd., M.Pd., CHT., CHE., CTE., dan Flavia Sungkit.

Baca Juga:  SDM Pariwisata Indonesia di Titik Krusial, Antara Gelombang Inovasi dan Jurang Kesenjangan

Sesi ini membawa peserta pada satu kualitas kepemimpinan yang semakin penting di tengah perubahan: clarity — kejelasan yang lahir dari purpose dan values, diperkuat oleh proses learn, unlearn, relearn, serta dibangun dari pemahaman diri melalui IKIGAI. Dalam dunia yang tidak selalu memberikan certainty, seorang pemimpin tetap dituntut untuk memberikan direction dan clarity.

Ketua Human Resources Association (HRA) Bali, Vira Risnayani, mengatakan tema tahun ini dipilih untuk memastikan peran manusia tetap menjadi kekuatan utama di tengah perkembangan teknologi yang semakin cepat.

Dijelaskannya,  manusia memiliki kemampuan berupa rasa, harapan, empati, serta cara berpikir yang tidak dapat begitu saja digantikan oleh AI.

“Ditengah gempuran teknologi seperti Ai, peran manusia tetap menjadi kekuatan utama. sebagai human being kita memiliki kekuatan untuk memiliki rasa, memiliki asa, dan memiliki cara yang tidak akan tergantikan dengan AI,” ujar Vira.

Lebih lanjut Vira menegaskan bahwa tantangan SDM Bali bukan lagi soal apakah siap atau tidak menghadapi AI. Sebab, perkembangan teknologi akan terus bergerak sehingga yang lebih penting adalah kemampuan manusia untuk beradaptasi dan menggunakan teknologi secara bijak.

Menurutnya, kemampuan critical thinking, creative thinking, dan curiosity menjadi kompetensi penting yang harus diperkuat oleh tenaga kerja di era AI.

“Jadi kesiapan kita akan mengahadapi perkembangan teknologi itu yang penting. kalau mau ditanya siap atau enggak, ya mau enggak mau harus siap,” Ujarnya lagi.

Ditegaskannya,  kemampuan menggunakan berbagai perangkat AI saja tidak cukup. SDM harus mampu memahami, mengkritisi, dan memaknai hasil yang diberikan teknologi sehingga menghasilkan outcome yang bermanfaat.

“kalau kita bisa menggunakan alat AI, bukan berarti kita bisa memaknai. Kemampuan untuk bisa memaknai AI itu adalah kemampuan utama,” Terangnya.

Senada dengan Vira, Salah satu pembicara utama HRCON 2926 yang juga Senior Global Advisor ESQ Group, Rina Sarif mengatakan perkembangan AI tidak semestinya membuat manusia kehilangan kendali atas kehidupannya. Teknologi akan terus berubah, bahkan setelah AI berkembang akan muncul teknologi dan agen AI dengan kemampuan yang semakin kompleks. 

Baca Juga:  Pasar Malam "Enlightened Bali" Digelar Agustus 2026, Hadirkan Pengalaman Imersif dan Penuh Interaksi

Ia menilai kualitas manusia yang semakin penting di era AI adalah kesadaran diri, yang menjadi dasar bagi seorang pemimpin untuk memahami dirinya sendiri sekaligus membangun empati terhadap orang lain.

“AI itu adalah alat. Setelah AI, nanti akan ada agent AI. Selepas agent AI, akan ada teknologi yang baru. Jadi teknologi itu akan berubah. Tetapi jawabannya masih manusia” Ujar Rina.

Lebih lanjut Rina mendorong kalangan HR untuk berani menyampaikan suara dan mengambil posisi strategis dalam organisasi. Menurutnya, HR tidak boleh hanya menjadi fungsi administratif, tetapi harus berani menyuarakan kepentingan manusia di lingkungan kerja.

Ia menyerukan keberanian HR untuk berbicara menjadi penting karena keputusan organisasi menyangkut langsung kehidupan dan masa depan para pekerja.

“HR Bali harus berani. Harus punya suara di meja. Jangan hanya berfungsi di administratif.  Jangan takut untuk menyuarakan opini,” Serunya memberi motivasi kepada insan HR.

Pembicara lainnya, Wiwik Wahyuni, Senior Director Human Capital Talent Culture and Transformation Danantara, menekankan pentingnya kejelasan arah organisasi dalam menghadapi transformasi.

Dikatakannya, karyawan tidak boleh sekadar ditempatkan sebagai bagian yang terdampak perubahan. Mereka harus benar-benar menjadi bagian dari proses perubahan tersebut.

“HR sangat penting sekali untuk supaya clear dengan direction. Sangat penting untuk perusahaan mengetahui apakah mereka memberikan expectation yang jelas dan value apa yang diharapkan terhadap karyawan untuk di-create,” Ungkapnya.

Wiwik mengingatkan agar aktivitas HR tidak berjalan sendiri tanpa keterkaitan dengan tujuan bisnis perusahaan. Menurutnya,  kebutuhan kompetensi tenaga kerja juga tidak bisa disamaratakan. Setiap perusahaan memiliki arah bisnis dan nilai yang ingin diciptakan berbeda sehingga kapabilitas yang dibutuhkan pun harus disesuaikan.

“Harus dihitungkan dengan value apa yang akan di-create oleh satu perusahaan, direction perusahaan akan ke mana. Dari situ baru dilihat kapabilitas apa yang diperlukan,” jelasnya.

Wiwik juga menilai keberadaan komunitas HR di Bali memiliki posisi strategis karena industri hospitality bekerja dalam sebuah ekosistem yang saling berkaitan, terlebih pengalaman wisatawan tidak hanya ditentukan oleh satu hotel atau satu perusahaan. Kepuasan wisatawan pada akhirnya akan membentuk persepsi terhadap Bali secara keseluruhan.

Baca Juga:  Bangli Siap Jadi Pelopor Nasional, Deklarasikan 1.000 Guru Pengguna AI pada Smartboard

Karena itu, menurut Wiwik, para pelaku hospitality di Bali perlu terus membangun koneksi, berbagi pengetahuan, dan berkembang bersama.

“Ketika customer, tamu-tamu happy atau tidak happy, yang mereka pikirkan bukan hotelnya, bukan yang melayaninya, tapi adalah Bali,” Terangngnya.

HRCON 2026 tidak hanya dikemas dalam bentuk konferensi, tetapi dirancang sebagai perjalanan pembelajaran yang bergerak dari Purpose, Mindset, Growth, Workforce Readiness, Clarity hingga Impact.

HRCON 2026 juga menghadirkan dua strategic panel, yakni “From Mindset to Workforce Readiness: Building Talent for the Next Era” serta “Create Clarity, Reach for Impact”.

Selain sesi utama, peserta mengikuti berbagai concurrent sessions yang membahas isu praktis, mulai dari intrapreneurial mindset, financial wellbeing, employee experience, entrepreneurial mindset dalam HR, leadership, pengambilan keputusan hingga kolaborasi manusia dan AI. (iB1)

Pada akhirnya, HRCON 2026 bukan hanya tentang satu hari penuh sesi, nama-nama besar, atau kumpulan insight. Seluruh perjalanan dirancang untuk bergerak secara utuh dari Purpose → Mindset → Growth → Workforce Readiness → Clarity → Impact. Sebuah pengingat bahwa masa depan hospitality tidak hanya ditentukan oleh seberapa cepat kita mengadopsi teknologi, tetapi oleh seberapa kuat kita membangun manusia yang memiliki purpose, keberanian untuk berinovasi, kesiapan untuk berubah, kejelasan untuk memimpin, dan komitmen untuk menciptakan dampak. Karena ketika acara berakhir, pekerjaan yang sesungguhnya justru dimulai: membawa setiap pembelajaran kembali ke people, organization, industry, dan community.

TENTANG HRA BALI

Human Resources Association Bali (HRA Bali) adalah platform terbuka nasional yang bersifat nirlaba. HRA Bali bertujuan untuk merangkul semua pemangku kepentingan terkait dalam Pengembangan Sumber Daya Manusia Bali (Hotel, restoran, destinasi wisata, Lembaga Pendidikan, agen perjalanan wisata, sampai Lembaga nirlaba) dengan fokus kegiatan pada edukasi, asistensi dan pengembangan kualitas profesional manusia SDM di Pulau Bali.

Editor : Delan

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *