Alaya Resort Ubud Ungkap Komitmen Lestarikan Alam Sawah dan Berdayakan 100% Tenaga Kerja Lokal
UBUD, iBaliNews.Com — Menandai momen suci yang jatuh pada Sasih Kapat (Purnama Kapat) dalam kalender Bali, Alaya Resort Ubud menggelar Upacara Odalan Agung. Rangkaian acara yang diawali dengan upacara Pecaruan pada pagi hari digelar sebagai bentuk rasa syukur atas keharmonisan alam serta pemulihan ekonomi dan pariwisata pascapandemi COVID-19.
General Manager Alaya Resort Ubud sekaligus Chief Operating Officer (COO) Alaya Hotels & Resorts, Dewi Mas, menyampaikan bahwa Odalan Agung ini menjadi momen spesial untuk mengucap syukur atas kelancaran usaha dan rezeki yang diterima.
”Hari ini, Budha Wage Wayang, kami mengadakan upacara Odalan Agung. Momen ini jatuh di Sasih Kapat atau Purnama Kapat. Ini adalah bentuk terima kasih kami kepada alam di Alaya, Ubud, dan Bali atas rezeki luar biasa yang diberikan sejak recovery COVID-19,” ujar Dewi Mas saat ditemui di sela-sela acara.
Dewi Mas menjelaskan, sejak pemulihan pariwisata dimulai pada Maret 2022, Alaya Resort Ubud mencatatkan performa bisnis yang sangat positif. Momen Odalan Agung kali ini merupakan upacara ke-8 yang digelar sejak pandemi, di mana pihak resort konsisten menggelarnya setiap wuku (6 bulan kalender Bali atau sekitar 7 bulan Masehi).
Menjaga Subak dan Mengembangkan Alaya Ground
Salah satu hal menarik dari keberadaan Alaya Resort Ubud adalah komitmennya dalam menjaga kelestarian lingkungan dan budaya lokal, khususnya sistem irigasi tradisional Bali (Subak).
Dewi menceritakan, lahan tempat berdirinya Alaya Resort Ubud awalnya hendak dibeli oleh perusahaan multinasional untuk dibangun gedung hotel bertingkat. Namun, berkat sinergi dengan desa adat setempat, pihak Alaya mengambil langkah dengan menyewa lahan tersebut sesuai harga jual guna menyelamatkan kawasan hijau persawahan.
”Komitmen kami kepada desa adat adalah tetap menjalankan dan melestarikan sawah. Namun sebagai pengusaha, tentu kami juga perlu memperhitungkan efisiensi dan keuntungan. Sebagai gantinya, ketimbang menambah 100 kamar baru dalam bentuk bangunan gedung, kami memilih mengembangkan kawasan fasilitas kuliner dan gaya hidup bernama Alaya Ground selama 5 tahun terakhir,” terangnya.
Melalui Alaya Ground, para pengunjung, baik yang menginap maupun tidak—dapat menikmati pengalaman kuliner di tengah pemandangan persawahan yang dikelola dengan sistem Subak. Sejumlah outlet dan fasilitas ternama turut meramaikan kawasan ini, seperti Pison, Pison N2, Rayjin, Cortado, hingga Pinkies.
Okupansi Mencapai 92 Persen
Di sektor okupansi, Alaya Resort Ubud mencatatkan angka yang sangat memuaskan. Terhitung sepanjang tahun berjalan (year-to-date) hingga 30 September, rata-rata tingkat hunian kamar mencapai 92 persen dari total 106 kamar yang dimiliki.
Menurut Dewi, kawasan Ubud saat ini sedang mengalami peningkatan kunjungan dari wisatawan mancanegara, khususnya pasar Asia seperti Cina, Korea Selatan, Jepang, serta pasar Australia dan Eropa.
”Hari ini adalah tolok ukur rasa syukur kami. Kami bersyukur tidak hanya bisa memberikan nilai investasi (return on investment) yang baik bagi pemilik resort, tetapi juga tetap bisa berkontribusi menjaga kelestarian sawah dan desa adat di Ubud,” pungkas Dewi Mas.
Komitmen Alaya Resort Ubud: Berdayakan 100% Tenaga Kerja Lokal dan Pertahankan Lahan Sawah Abadi
Alaya Resort Ubud menegaskan komitmennya dalam mendukung keberlanjutan ekonomi dan budaya lokal Bali dengan memprioritaskan 100% tenaga kerja Indonesia tanpa menggunakan tenaga kerja asing.
Dewi Mas menjelaskan bahwa manajemen di bawah naungan Alaya Hospitality percaya penuh pada potensi SDM lokal, mulai dari tingkatan manajemen puncak hingga staf operasional.
”Kami tidak ada memakai tenaga kerja asing sama sekali. Dari posisi CEO, owner, hingga local management, semuanya orang lokal. Siapa saja yang memiliki KTP Bali pasti diprioritaskan. Bahkan untuk warga KTP Desa Adat Padang Tegal, mereka memiliki hak khusus sebagai karyawan permanen,” ujar Dewi Mas
Selain memberdayakan tenaga kerja lokal Bali, pihaknya kini juga mulai membuka ruang keragaman dengan merangkul karyawan non-Hindu di berbagai divisi, seperti sales marketing hingga security & safety. Langkah ini diambil untuk menciptakan suasana multicultural yang inklusif di lingkungan kerja.
Upaya Menyelamatkan Lahan Sawah Tersisa
Tak hanya fokus pada pemberdayaan SDM, Alaya Resort Ubud juga berkomitmen menjaga kelestarian lingkungan dengan menyewa dan mempertahankan lahan sawah di sekitar area resort. Langkah ini dilakukan untuk mengantisipasi alih fungsi lahan yang marak terjadi di kawasan Ubud.
”Sawah yang tersisa di kawasan Desa Adat Padang Tegal ini kami sewa dan pertahankan agar tidak dijual atau diubah fungsinya. Sekitar 35% dari total luas lahan kamipertahankan murni sebagai sawah abadi. Hasil panennya pun kami bagikan kembali ke desa adat, dan pengelolaannya diserahkan kepada petani Subak lokal,” jelasnya.
Untuk melengkapi konsep lanskap sawah tersebut, area sekitarnya dikembangkan menjadi destinasi kuliner baru tanpa merusak estetika dan fungsi utama lahan pertanian. (ib1 / Lan)



