IPBI – SPB Wisuda 1.083 Lulusan, 80 Persen Telah Terserap di Dunia Kerja
BADUNG, iBaliNews.Com – Institut Pariwisata dan Bisnis Internasional (IPBI) bersama Sekolah Perhotelan Bali (SPB) kembali menunjukkan komitmennya dalam mencetak sumber daya manusia berkualitas di bidang pariwisata dan perhotelan.
IPBI dan SPB sukses menggelar upacara wisuda yang ke-15 dan ke-25 bagi ribuan mahasiswanya di Bali Nusa Dua Convention Center (BNDCC), pada sabtu (19/09/2026). Kali ini, IPBI mewisuda sebanyak 447 lulusan dan SPB sebanyak 636 lulusan.
Prosesi wisuda turut dihadiri jajaran Yayasan Dharma Widya Ulangun, Jajaran Rektorat IPBI dan SPB serta undangan dari Lembaga dan instansi terkait. Mengingat jumlah peserta yang melampaui 1.000 orang dan keterbatasan kapasitas tempat, pelaksanaan wisuda dibagi menjadi dua sesi, yakni pada pagi dan sore hari
Rektor IPBI, Dr I Made Sudjana, SE., MM., CHT., CHA. menyampaikan bahwa sesi pagi yang dimulai pukul 08.00 WITA dikhususkan bagi lulusan IPBI yang mencakup program S2, S1, Diploma IV, dan Diploma III. Jumlah wisudawan dari IPBI pada sesi ini mencapai 447 orang. Sementara itu, sesi siang diperuntukkan bagi lulusan SPB dengan jumlah yang lebih besar, yakni 636 peserta.
Kabar menggembirakan datang dari tingkat keterserapan para lulusan di dunia kerja. Berdasarkan data yang dihimpun oleh pihak kampus, 80 persen wisudawan sudah mendapatkan tempat berkarya di industri pariwisata.
“Kalau dilihat dari penyerapan tracer study yang kita lakukan, itu hampir sudah 83 persen mereka sudah terserap dan sedia untuk bekerja,” ungkap I Made Sudjana.
Dalam kesempatan tersebut, Rektor Made Sudjana juga membagikan pesan penting bagi para lulusan yang akan segera memasuki dunia hospitality. Ia menekankan bahwa profesionalisme adalah kunci utama yang harus dipegang teguh.
“Di dalam dunia hospitality itu, maka profesional itu sangat penting. Apa itu? Adalah satu memang dia harus disiplin, kemudian etos kerjanya harus tinggi, kemudian kita juga minta mereka agar bekerja secara jujur,” tegasnya.
Terkait kompetensi teknis atau skill, Rektor IPBI ini menjamin bahwa kemampuan para lulusan tidak perlu diragukan lagi. Hal ini dikarenakan sistem pembelajaran di kampus yang berfokus pada praktik langsung. Sebagai contoh, mahasiswa jurusan dapur (kitchen) telah terbiasa menyelenggarakan simulasi acara seperti banquet layaknya standar perhotelan sesungguhnya.
Lebih lanjut, I Made Sudjana menjelaskan strategi kampus dalam memfasilitasi mahasiswa agar mudah diserap oleh industri global. Salah satu fokus utamanya adalah peningkatan kemampuan berbahasa Inggris. Pihak Kampus secara aktif mengirimkan mahasiswa untuk mengikuti program pelatihan (training) ke luar negeri, dengan Amerika Serikat sebagai destinasi utama.
“Sekarang ada 400 lebih mahasiswa kita di sana (Amerika). Sehingga saya yakin anak-anak yang sudah datang dari Amerika itu maka bahasa Inggris-nya pasti sudah bagus, sudah luar biasa, sehingga tidak sulit mereka untuk mencari pekerjaan di industri-industri perhotelan,” pungkasnya.
Sementara Ketua Yayasan Dharma Widya Ulangun, Dr. Drs. I Nyoman Gede Astina, M.Pd.,CHT.,CHA menegaskan komitmen yayasan dalam mendukung kelancaran proses belajar mengajar dengan menyediakan fasilitas pendukung secara menyeluruh sesuai dengan prinsip ‘One Stop Learning’. Fasilitas tersebut mencakup sarana gedung, ruang teori dan praktik, bahan praktik, tenaga pengajar berkualitas, penyaluran magang dan kerja, hingga penyediaan tempat tinggal (dormitory) serta sarana pendukung lainnya.
“Tugas yayasan adalah menyiapkan sarana prasarana seperti gedung, ruangan praktik, ruangan teori, hingga bahan-bahan praktik,” ujar I Nyoman Gede Astina. Selain sarana fisik, yayasan juga menghadirkan tenaga pengajar berkualitas yang merupakan perpaduan antara praktisi (seperti General Manager dan Front Office Manager) serta akademisi dengan kualifikasi minimal S2, S3, hingga lima orang Guru Besar (Profesor).
“Yayasan ini mengusung sistem pendidikan dengan semboyan “One Stop Learning”, yang berarti segala kebutuhan mahasiswa telah dipersiapkan dari awal hingga akhir.” Kata I Nyoman Gede Astina.
Penerapan konsep “One Stop Learning” ini dibuktikan dengan tersedianya berbagai fasilitas dan unit pendukung, antara lain:
- Tenaga Pengajar Profesional: Pembelajaran dipandu oleh perpaduan praktisi (berkualifikasi General Manager dan manajer) serta akademisi dengan kualifikasi minimal S2, S3, dan bahkan didukung oleh lima orang Guru Besar.
- PT Bali Duta Mandiri: Unit yang bertugas mengirimkan mahasiswa untuk program magang (internship) serta mencarikan pekerjaan bagi alumni, baik di dalam negeri, luar negeri, kapal pesiar, maupun darat.
- Bank Perkreditan Rakyat (BPR) SPB: Membantu pendanaan atau modal bagi mahasiswa yang membutuhkan biaya untuk berangkat ke luar negeri, kapal pesiar, atau untuk menjadi wirausaha.
- SPB Maritime Training Center: Memfasilitasi mahasiswa yang ingin bekerja di kapal pesiar untuk mendapatkan sertifikat yang dipersyaratkan.
- Asrama Mahasiswa (Dormitory): Menyediakan 115 kamar yang tidak hanya dihuni oleh mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia, tetapi juga mahasiswa asing dari Pakistan, Korea, Jepang, dan Timor Leste.
- Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP): Memastikan seluruh lulusan tersertifikasi secara kompeten.
Sebagai penutup, I Nyoman Gede Astina menitipkan tiga pesan penting bagi para wisudawan yang baru saja dilepas.
“Kepada para wisudawan yang telah dilantik, pihak yayasan berpesan agar para lulusan terus mengasah kompetensi, mempertahankan karakter dan etika ketimuran seperti kejujuran serta kedisiplinan, dan senantiasa menjaga nama baik diri, keluarga, maupun almamater.” Pungkasnya. (iB1/Lan)





