Taman Ujung Karangasem : Menjaga Warisan, Membaca Arah Baru Pariwisata Bali
Oleh: Tim Program Pascasarjana ( S2 TP3 dan S3 TPB) Institut Pariwisata dan Bisnis Internasional (IPB Internasional)
Ada sesuatu yang berbeda ketika kita memasuki kawasan Taman Soekasada Ujung di Karangasem. Keindahannya tidak berhenti pada bangunan, kolam, taman, atau latar perbukitan yang menjadi daya tarik visual. Ada suasana yang membawa kita pada perjalanan masa lalu, ketika kawasan tersebut menjadi bagian dari kehidupan Kerajaan Karangasem. Karena itu, Taman Ujung sesungguhnya bukan sekadar tempat untuk dikunjungi, difoto, kemudian ditinggalkan. Ia merupakan bagian dari cerita panjang Karangasem yang sampai sekarang masih dapat kita lihat dan rasakan. Persoalannya, bagaimana cerita masa lalu tersebut tetap menarik bagi wisatawan yang hidup dalam perubahan zaman yang begitu cepat? Pertanyaan ini menjadi penting karena wajah pariwisata Bali sekarang sudah jauh berbeda. Wisatawan memperoleh informasi bukan lagi hanya dari biro perjalanan atau brosur. Sebelum menentukan tempat yang akan dikunjungi, mereka dapat melihat video, membaca ulasan, mencari rekomendasi melalui media sosial, bahkan menggunakan teknologi kecerdasan buatan untuk menyusun perjalanan. Sebuah destinasi dapat dikenal luas dalam waktu singkat, tetapi dapat pula dilupakan ketika perhatian wisatawan berpindah kepada tempat lain. Persaingan seperti inilah yang sedang dihadapi Taman Ujung.
Menariknya, Taman Ujung sebenarnya tidak kekurangan modal untuk bersaing. Justru sebaliknya. Destinasi ini mempunyai sesuatu yang sekarang semakin sulit ditemukan, yaitu sejarah dan keaslian. Bangunan, taman, kolam, lanskap dan lingkungan di sekitarnya memiliki cerita yang tidak dapat dibuat dalam waktu singkat. Arsitektur Taman Ujung juga memperlihatkan perjumpaan berbagai pengaruh budaya yang kemudian menyatu dengan karakter lokal Karangasem. Data kunjungan wisatawan memperlihatkan bahwa Taman Ujung masih memiliki tempat tersendiri di antara destinasi wisata Karangasem. Sepanjang 2025, Taman Soekasada Ujung mencatat sekitar 129.450 kunjungan. Jumlah tersebut memang masih berada di bawah Taman Tirta Gangga yang menjadi salah satu destinasi paling ramai di Karangasem, tetapi angka tersebut cukup untuk menunjukkan bahwa Taman Ujung belum kehilangan daya tariknya. (detik.com) Yang perlu kita pikirkan sekarang bukan semata-mata bagaimana mendatangkan lebih banyak wisatawan. Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah apa yang terjadi setelah wisatawan tiba di sana. Apakah mereka hanya berkeliling, mengambil foto, lalu melanjutkan perjalanan? Ataukah mereka mengetahui cerita di balik bangunan yang mereka lihat? Apakah mereka mengenal sejarah Karangasem? Apakah mereka berinteraksi dengan masyarakat sekitar? Apakah kehadiran wisatawan memberikan manfaat ekonomi bagi warga? Dan yang tidak kalah penting, apakah meningkatnya kunjungan tersebut berjalan seiring dengan kemampuan kita merawat bangunan dan lingkungan yang menjadi alasan mereka datang?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut menurut saya perlu menjadi bahan pembicaraan bersama antara pemerintah, pengelola, masyarakat, pelaku usaha pariwisata dan kalangan akademisi. Taman Ujung memiliki peluang untuk dikembangkan lebih jauh, tetapi pengembangannya tidak harus dilakukan dengan cara membangun banyak hal baru. Justru yang sudah ada perlu diceritakan dengan cara yang lebih menarik. Seorang wisatawan yang berjalan melewati sebuah bangunan tua akan mendapatkan pengalaman yang berbeda apabila ia hanya melihat bentuk bangunan tersebut dibandingkan ketika ia mengetahui siapa yang membangunnya, mengapa bangunan itu dibuat, bagaimana kehidupan kerajaan pada masa itu, dan bagaimana hubungan sejarah tersebut dengan masyarakat Karangasem sekarang. Di situlah cerita menjadi penting.
Sejarah Taman Ujung dapat dikemas melalui teknologi yang sederhana sekalipun. Informasi pada setiap titik kawasan dapat dilengkapi dengan kode QR yang menghubungkan wisatawan dengan cerita, foto lama, video, atau penjelasan dalam beberapa bahasa. Pemandu lokal juga dapat diberikan ruang yang lebih besar untuk menyampaikan cerita dari sudut pandang masyarakat setempat. Teknologi tidak perlu mengambil alih pengalaman wisatawan. Teknologi cukup membantu wisatawan memahami apa yang sedang mereka lihat. Pendekatan seperti ini menurut saya jauh lebih sesuai dengan karakter Taman Ujung daripada menjadikannya sekadar arena mengejar popularitas media sosial. Media sosial tetap penting. Bahkan sangat penting. Tetapi yang ditampilkan bukan hanya keindahan tempatnya. Cerita di balik keindahan itulah yang seharusnya diperkuat. Bayangkan apabila wisatawan melihat sebuah video pendek mengenai kisah Kerajaan Karangasem, kemudian tertarik mengunjungi Taman Ujung, setelah itu melanjutkan perjalanan ke Puri Agung Karangasem, Tirta Gangga, Desa Tenganan, kawasan Jasri atau desa-desa wisata di sekitarnya. Perjalanan tersebut akan memberikan pengalaman yang jauh lebih lengkap daripada sekadar mengunjungi satu objek. Karangasem sebenarnya memiliki kekayaan destinasi yang memungkinkan pola perjalanan seperti itu.
Karena itu, Taman Ujung sebaiknya tidak dipandang sebagai destinasi yang berdiri sendiri. Ia dapat menjadi salah satu pintu masuk untuk memperkenalkan wajah Karangasem secara lebih luas. Wisatawan yang datang ke Taman Ujung dapat diarahkan untuk mengenal kuliner lokal, kerajinan masyarakat, seni budaya dan kehidupan desa di sekitarnya. Dengan cara tersebut, manfaat pariwisata tidak berhenti pada kawasan Taman Ujung. Uang yang dibelanjakan wisatawan dapat bergerak lebih jauh ke masyarakat. Hal ini penting karena keberhasilan pariwisata pada akhirnya tidak hanya dilihat dari banyaknya orang yang datang. Destinasi yang ramai belum tentu memberikan manfaat yang besar bagi masyarakat apabila wisatawan hanya datang sebentar dan sebagian besar pengeluarannya justru terjadi di luar kawasan.
Sebaliknya, wisatawan yang tinggal lebih lama, menggunakan jasa masyarakat setempat, membeli produk lokal, menikmati makanan tradisional dan mengikuti pengalaman budaya akan memberikan dampak yang jauh lebih berarti. Di sinilah masyarakat Karangasem harus mendapatkan posisi yang kuat. Masyarakat jangan hanya menjadi orang yang melihat wisatawan datang dan pergi. Mereka harus menjadi bagian dari pengalaman wisata itu sendiri. Cerita masyarakat, makanan tradisional, kerajinan, kesenian, tradisi dan kehidupan sehari-hari merupakan kekayaan yang tidak kalah penting dibandingkan bangunan fisik Taman Ujung. Namun ada satu hal yang harus menjadi perhatian utama ketika kita berbicara tentang masa depan Taman Ujung, yaitu kondisi warisannya.
Pada Desember 2025, perhatian terhadap kondisi fisik sejumlah bagian kawasan Taman Ujung sempat muncul dalam kunjungan Komisi X DPR RI. Beberapa bagian bangunan dilaporkan memerlukan perhatian dan kajian teknis, termasuk persoalan keretakan dan indikasi pergeseran struktur. Kondisi tersebut tentu perlu ditangani secara serius karena bangunan dan lanskap itulah yang menjadi bagian utama dari identitas Taman Ujung. (emedia.dpr.go.id) Bagi saya, persoalan ini justru harus menjadi titik balik dalam melihat pengembangan Taman Ujung. Jangan sampai kita terlalu sibuk memikirkan bagaimana mendatangkan wisatawan, tetapi lupa bahwa sesuatu yang mereka datang untuk lihat membutuhkan perawatan yang serius. Semakin banyak wisatawan yang datang, semakin besar pula tanggung jawab kita untuk menjaga kawasan tersebut. Karena itu, pembangunan dan konservasi tidak boleh berjalan sendiri-sendiri. Fasilitas wisata memang perlu diperbaiki ketika dibutuhkan, tetapi setiap perubahan harus menghormati karakter kawasan. Bangunan bersejarah tidak bisa diperlakukan sama dengan bangunan komersial biasa. Ada nilai sejarah, arsitektur dan budaya yang harus dipertahankan. Prinsipnya sederhana, Taman Ujung boleh berkembang, tetapi tidak boleh kehilangan dirinya sendiri.Saya kira ini yang perlu menjadi pegangan ketika kita berbicara tentang persaingan pariwisata sekarang. Taman Ujung tidak perlu menjadi destinasi seperti tempat lain. Ia tidak perlu meniru Ubud, tidak perlu menjadi Tirta Gangga kedua, dan tidak perlu dipenuhi atraksi baru hanya untuk mengejar jumlah pengunjung. Kekuatan Taman Ujung justru berada pada identitasnya sendiri.
Di tengah banyaknya destinasi yang menawarkan pengalaman serupa, sesuatu yang benar-benar memiliki cerita akan mempunyai nilai yang berbeda. Wisatawan mungkin bisa menemukan taman yang indah di banyak tempat, tetapi tidak akan menemukan sejarah Kerajaan Karangasem di tempat lain. Karena itu, masa depan Taman Ujung menurut saya bukan terletak pada seberapa banyak perubahan yang dapat dilakukan, tetapi pada seberapa cerdas kita mengolah apa yang sudah dimiliki. Kita membutuhkan cara baru untuk memperkenalkan sejarah, cara baru untuk memberikan pengalaman kepada wisatawan, cara baru untuk menggunakan teknologi, dan cara baru untuk menghubungkan destinasi dengan ekonomi masyarakat. Tetapi semua itu harus tetap berpijak pada karakter lokal. Pada akhirnya, pariwisata bukan hanya persoalan membawa orang datang ke suatu tempat. Pariwisata adalah tentang bagaimana seseorang memperoleh pengalaman, memahami sebuah daerah, kemudian pulang dengan kesan yang lebih dalam. Jika wisatawan datang ke Taman Ujung hanya membawa foto, kita baru menjual keindahan. Tetapi jika mereka pulang dengan pemahaman tentang sejarah Karangasem, mengenal masyarakatnya, mencicipi kulinernya, membeli produk lokal, dan membawa cerita tentang budaya yang mereka temui, maka kita telah menjual sesuatu yang jauh lebih bernilai yakni, pengalaman dan makna. Taman Ujung memiliki peluang untuk menuju ke arah itu.
Warisan ini tidak boleh hanya dipelihara sebagai peninggalan masa lalu. Ia harus dihidupkan kembali melalui cara-cara yang sesuai dengan zaman, tanpa menghilangkan akar yang membuatnya istimewa. Sebab di tengah perubahan pariwisata yang semakin cepat, justru sesuatu yang autentik akan semakin mahal nilainya Taman Ujung tidak harus berubah menjadi destinasi yang lain. Taman Ujung hanya perlu menemukan cara terbaik untuk memperkenalkan dirinya kepada generasi yang baru. Dan mungkin, di situlah masa depan pariwisata Karangasem sebenarnya berada: maju mengikuti zaman, tetapi tetap berdiri dengan identitasnya sendiri.
REFERENCE



