Bali

Mengapa Pariwisata Berkualitas Yang Harus Diwujudkan?

Pasangan Bupati Badung dan Wakil Bupati Badung terpilih yang akrab disapa Adi-Cipta, mengusung visi “Mewujudkan Pariwisata Berkualitas yang berlandaskan Nilai-nilai Nangun Sat Kerthi Loka Bali”, visi ini menjadi tagline yang sering disampaikan pada saat sambutan dalam setiap kesempatan acara. Hal ini tentu bukan tanpa alasan, mengingat bahwa Pariwisata merupakan tulang punggung perekonomian di  Kabupaten Badung. Dibuktikan pada saat terjadinya Tragedi Bom Bali I tahun 2002 dan Bom Bali II tahun 2005, peristiwa ini membuat pariwisata Bali khususnya Badung sepi pengunjung dan membuat perekonomian Badung menjadi anjlok.

Pasca Tragedi Bom Bali 2002, perekonomian Kabupaten Badung mengalami kontraksi hebat akibat anjloknya sektor pariwisata. Kunjungan wisatawan mancanegara merosot drastis, tingkat hunian hotel anjlok, dan volume usaha koperasi maupun ekonomi rumah tangga mengalami penurunan hingga memicu gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK).

Hal ini diamini oleh akademisi Universitas Udayana, Nyoman Ariana dalam data yang dimilikinya yang dikutip dari cnnindonesia.com, Nyoman menyimpulkan demikian merujuk pada jumlah kunjungan wisatawan asing kembali ke jumlah normal rata-rata bulanan yang lebih dari 100.000.

“Pada bulan Oktober ke November 2002 terjadi penurunan kunjungan dari semula 150 ribu pada September 2002 jadi 81.100 di bulan berikutnya. Kemudian, November turun lagi ke angka 31.497 wisman,” kata Nyoman.

Selain tragedi bom I dan II, guncangan untuk pariwisata juga terjadi saat pandemi global covid-19. Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa menyampaikan dampak pandemi COVID-19 yang menyebabkan kontraksi ekonomi hingga 16,9 persen di Badung.

“Ini membuktikan bahwa kekuatan kami memang ada di sektor pariwisata. Tetapi ke depan, kami tidak bisa hanya bertumpu pada satu sektor karena sangat rentan,” ujar Adi Arnawa saat acara Rilis Indeks Daya Saing Daerah (IDSD) 2025 di Auditorium Soemitro Djojohadikusumo, Gedung BJ Habibie, Jakarta, Selasa (24/2).

Lalu, banyak pertanyaan muncul dari masyarakat, Pariwisata berkualitas seperti apa yang akan diwujudkan oleh Pasangan Adi-Cipta?

Dalam wawancara ekslusif yang dilakukan oleh Tim Prokompim beberapa waktu yang lalu, Bupati Badung I Wayan Arnawa menyampaikan dirinya akan memulai perjalan ini dengan penguatan infrastruktur dengan pembangunan beberapa ruas jalan baru yang sering ia sampaikan. Ia meyakini bahwa ekonomi tak akan tumbuh tanpa adanya infrastruktur penunjang yang memadai. Selain itu, juga untuk mengurangi kemacetan dibeberapa daerah yang sering membuat wisatawan menjadi tak betah untuk berlama-lama di Kabupaten Badung.

Baca Juga:  Buka Mengwi Ogoh-Ogoh Festival IV, Wabup Bagus Alit Sucipta Dorong Kreativitas Yowana

Melalui pembangunan infastruktur ini diharapkan meransang pertumbuhan perekonomian di Kabupaten Badung, khususnya jalan jalan baru yang dibangun ini kan menjadi perangsang UMKM-UMKM baru tumbuh dan berkembang di Kabupaten Badung.

Pembangunan beberapa ruas jalan ini rencananya dirampungkan pada tahu 2027 mendatang dan tahun 2026 ini sudah pada tahap pembebasan lahan dan pembangunan. Selain itu, Pemkab. Badung juga melaksanakan Manajemen Rekayasa Lalu Lintas (MRLL) di beberapa ruas jalan di wilayah Kerobokan, Kuta Utara. Meski mendapat protes dari beberapa kalangan masyarakat, Bupati Badung Adi Arnawa tak bergeming. Setelah mengundang masyarakat yang protes untuk berdialog langsung ke Kantor Bupati Badung, dengan menjelaskan bahwa tujuan ini untuk mengurangi kemacetan di wilayah tersebut, akhirnya masyarakat yang protes memahaminya.

Memilih Benar, Bukan Mudah

Jalan panjang untuk mewujudkan Pariwisata Badung yang berkualitas tak selalu berjalan mulus. Pada saat awal menjabat Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa bersama Gubernur Bali I Wayan Koster melaksanakan penertiban bangunan liar di Kawasan Pantai Bingin, Pecatu. Dimana kawasan ini merupakan tanah Negara yang dimanfaatkan untuk kepentingan bisnis segelintir orang tanpa mengantongi izin yang sah. Setelah penertiban, dengan menggandeng komunitas setempat, Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa  mulai melaksanakan penataan di kawasan tersebut.

Meskipun berasal dari Pecatu, Adi Arnawa tak gentar dalam menertibkan yang memang sudah melanggar. Ia memilih jalan yang benar bukan yang mudah. Penataan-penataan ini nampakanya akan berlangsung dibeberapa wilayah, selanjutnya Kawasan Pantai Kuta yang sudah mulai ditinggalkan oleh wisatawan yang mulai gerah dalam menghadapi beberapa perlakuan dari oknum-oknum pedagang yang melaksanakan aksi “scam” di wilayah Pantai Kuta ini.

Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa sudah melaksanakan dialog dengan beberapa komunitas di Pantai Kuta, lalu saat peninjuan langsung ke lapangan dirinya berencana akan merevitalisasi kawasan Kuta secara menyeluruh. Penataan ini mencakup pembenahan tata ruang, pengentasan kemacetan, hingga restorasi kawasan pantai guna mengembalikan citra Kuta sebagai icon pariwisata dunia. Untuk itu, dirinya juga mengajak tokoh adat dan masyarakat untuk berkolaborasi mendukung rencana penataan ini.

Baca Juga:  Upacara Mulang pekelem Digelar Untuk Sucikan Selat Bali

Solusi Penanganan Sampah

Permasalah sampah yang menjadi momok yang menakutkan untuk masyarakat Badung beberapa waktu yang lalu, nampaknya sudah menemukan titik terang. Proyek PSEL (Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik) Denpasar Raya merupakan Proyek Strategis Nasional yang dirancang sebagai solusi jangka panjang untuk mengatasi krisis sampah di wilayah Denpasar dan Badung melalui teknologi ramah lingkungan berstandar Eropa. Melalui PSEL ini, diharapkan mampu menyelesaikan permasalahan sampah yang ada di Kabupaten Badung ini.

Namun Pemkab. Badung tetap menyarankan masyarakat untuk melaksanakan pemilihan sampah, untuk jangka pendek masyarakat diharapkan menyelesaikan sampah organik langsung dari sumbernya yaitu rumah tangga itu sendiri. Pada sektor Horeka (Hotel, Restaurant dan Kafe/Katering) Bupati Badung beserta jajarannya juga sudah melaksanakan sosialisasi dan peninjauan lansung ke beberapa Horeka yang berada di Kawasan Kuta.

Solusi banjir yang bikin “Nyi-nyir”

Permasalahan lain yang dihadapi oleh Pemkab. Badung adalah terjadinya Banjir di beberapa wilayah di Kecamatan Kuta, Kuta Utara dan Kuta Selatan. Solusi yang dihadirkan juga sempat membuat riuh media sosial. Bukan tanpa alasan, Bupati Badung I Wayan Arnawa menyampaikan akan menyulap air hujan atau air banjir ini menjadi air bersih yang akan disalurkan ke pipa-pipa distribusi milik Perumda Air Minum Tirta Mangutama Kabupaten Badung. Banyak yang meragukan apalagi mencemooh, namun Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa tak bergeming.

Pemkab Badung melalui Dinas PUPR Badung telah menambah pompa berkapasitas 30 Ribu liter/detik untuk mengatasi banjir ini. Selain itu, Dinas PUPR juga rutin melaksanakan normalisasi Aliran Sungai Tukad Mati, dan dengan anggaran sekitar Rp. 400 miliar untuk perubahan pada gorong-gorong, perubahan trotoar, termasuk pelebaran saluran irigasi. 

Baca Juga:  Bimtek Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial Di Jembrana

Air banjir ini, nantinya akan disedot oleh pompa yang akan disalurkan ke Sungai Tukad Mati yang bermuara ke Instalasi Pengolahan Air (IPA) Estuary yang mana IPA Estuary juga mengaplikasikan sistem Membrane Bioreactor (MBR) untuk mengolah air berbagai sumber menjadi air siap minum. Di mana PDAM Badung kini mengolah air tidak lagi menggunakan pola konvensional dengan zat kimia untuk pengolahan air.  

Penguatan Budaya Melalui Beasiswa

Laju pariwisata yang begitu pesat juga berdampak buruk bagi Kabupaten Badung, dimana meningkatnya alih fungsi lahan dan tergerusnya akar budaya Bali juga mendapat perhatian dari pasangan ini. Melalui program Beasiswa “Nak Badung”, yang diprioritaskan untuk Keluarga yang berpendapatan di bawah Rp. 5 Juta, anak Petani dan kearifan lokal yakni anak Nyoman dan Ketut (anak ketiga dan Keempat dalam satu istri). Diharapkan mampu membantu para petani agar tidak pusing memikirkan biaya pendidikan untuk anaknya, dan membantu orang tua yang memiliki anak lebih dari dua. Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa beralasan bahwa bagaimana orang Bali khususnya Badung, tetap menjaga agama, tradisi, seni adat dan budayanya jika populasinya berkurang.

Selain itu, diadakan event-event untuk menunjukan kreativitas dalam bidang seni dan budaya juga sudah gencar dilaksanakan misalnya Badung Caka Fest untuk ogoh-ogoh dan lainnya. Selain itu Pemkab. Badung melalui Dinas Kebudayaan juga membantu biaya upacara karya, piodalan hingga restorasi atau pembangunan pada pura yang ada di Kabupaten Badung maupun di luar Kabupaten Badung.

Selain itu, pajak bumi dan bangunan juga dinihilkan untuk lahan-lahan pertanian dan perumahan sejak tahun 2012. Hanya tanah yang dikomersilkan yang membayar pajak ini.

Semua yang dilakukan Pasangan Adi-Cipta ini untuk menjaga pariwisata Badung tetap diminati oleh wisatawan baik nasional maupun mancanegara. Namun kedepannya, pasangan ini juga merancang untuk membangun sektor-sektor lain untuk menopang keuangan daerah agar tidak bertumpu pada satu sektor saja.

Penulis : I Putu Yoko Sunarmayasa

Editor : I Putu Sukarma

Ilustrator: Ni Luh Fransisca Putri Maeda

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *