Ekonomi

kementan Imbau Petani Kopi Arabika Kintamani Tidak Budidayakan Varietas di Luar Ketentuan IG

BANGLI, iBaliNews.Com – Kopi Arabika Kintamani Bali menjadi salah satu komoditas perkebunan di Indonesia terutama Provinsi Bali. Komoditas ini telah mengantongi sertifikasi Indikasi Geografis (IG) sejak 5 Desember 2008. Petani berkewajiban mempertahankan kemurnian cita rasa kopi arabika Kintamani sesuai ketentuan IG. Hal ini berarti petani seharusnya tidak menanam varietas kopi diluar yang tercantum pada buku persyaratan IG tersebut.

Imbauan ini disampaikan Direktur Pupuk dan Pestisida, Ditjen Prasarana dan Sarana Kementerian Pertanian RI., Dr. Drs. Jekvi Hendra, M.Si, Selasa (9/6) saat menghadiri Panen Raya Komoditas Kopi Program Makmur Pupuk Sriwijaya di Desa Awan Kintamani. Acara dihadiri Vice President Pupuk Sriwijaya Arman Zainnudin, dan Robin Lee dari Pupuk Indonesia serta pejabat daerah baik Provinsi Bali dan sejumlah kabupaten di Bali. Hadir pula Kepala Desa Awan I Ketut Dana Brata, Wakil Ketua Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis (MPIG) Kopi Arabika Kintamani Dr. I Made Sarjana, SP., M.Sc serta PPL Desa Awan I Komang Suwedi, SP., M.Si.

Menurut Dr. Jekvi Hendra berdasarkan buku persyaratan IG Kopi Arabika Kintamani tahun 2007 varietas kopi arabika Kintamani antara lain Lini S 795, B1 (Kopyol), USDA 762 serta Kartika maupun Kobra. “Varietas-varietas tersebut sudah diuji mampu menghasilkan kopi arabika dengan cita rasa khas Kintamani yang ada rasa citrus atau jeruk. Jika varietasnya diganti kemungkinan cita rasa yang ada akan berubah,” tegasnya.

Baca Juga:  Buleleng Bangkitkan Festival Tingkat Kecamatan, UMKM dan Seni Kembali Bergairah

 Ditambahkan, kelompok tani/subakabian yang mengelola perkebunan Kopi Arabika Kintamani semestinya tidak mengajukan permohonan bantuan bibit ke Deptan, Dinas Petanian Provinsi Bali dan kabupaten. Petani selayaknya memohon pendampingan dan bantuan dana pembuatan bibit kopi arabika sesuai IG tersebut. Biji yang disemai, katanya berdasarkan varietas yang ada di Kintamani. “Galur bibitnya disediakan petani, petani bersama PPL memilih biji kopi dari tanaman kopi yang mampu menghasilkan kopi antara 5 sampai 7 kg per tahun. itu pasti bagus,” jelasnya. 

Selain itu, Dr. Jekvi Hendra meminta petani kopi arabika Kintamani tidak menjual kopi gelondongan antar pulau. Langkah ini sebagai upaya mencegah menurunnya kualitas dan rasa kopi arabika. Jika gelondong merah kopi arabika Kintamani diolah di luar daerah maka besar kemungkinan biji kopinya dicampur dengan kopi yang dihasilkan didaerah lain.

Baca Juga:  FS Rampung, Proses Pembangunan Pelabuhan Kusamba Kini Memasuki Babak Baru
Panen Raya Komoditas Kopi Program Makmur Pupuk Sriwijaya di Desa Awan Kintamani, Selasa (9/6)

 Hasil olahan dikemas tetap menggunakan merek dagang Kopi Arabika Kintamani, tagasnya, sehingga kepercayaan konsumen hilang. “Jika rasa kopi arabika Kintamani tak lagi asli, yang rugi petani kopi Kintamani. Jadi selain varietas kopi dipertahankan, kopinya juga harus diolah di Kintamani agar kualitas cita rasa yang tercantum di IG dapat dipertahankan,” pungkas Dr. Jekvi Hendra.

Wakil Ketua MPIG Dr. I Made Sarjana menyatakan himbauan pejabat Deptan RI tersebut sangat tepat. “Pak Direktur Dr. Jekvi memahami esensi sertifikasi IG, saya salut dan bangga atas konsep kebijakan yang dilontarkan. Sebaikanya, kebijakan itu tidak hanya lisan tetapi ada surat keputusan yang disampaikan ke petani agar mereka menyadari kekeliruan memasukkan varietas kopi arabika diluar IG,” tutur Dosen Fakulras Pertanian Unud itu.

Arman Zainuddin yang menjabat Vice Presiden Pupuk Sriwijaya menjelaskan kegiatan demplot penggunaan pupuk produksi PT Sriwijaya mendukung peningkatan kualitas dan produktivitas kopi arabika Kintamani. “Kegiatan hari ini, Panen Raya Komoditas Kopi Program Makmur. Kami mendukung pemajuan budidaya kopi arabika Kintamani karena ini komoditas unggulan Indonesia. Jadi demplot ini bertujuan mengembalikan cita rasa dan kejayaan kopi arabika Kintamani,” tegas Arman. 

Baca Juga:  Badung Promo Tani, Strategi Pemkab Badung Bangkitkan Ekonomi Lokal Berbasis Pertanian

Sementara itu Robin Lee dari Pupuk Indonesia menyatakan pihaknya sebagai induk dari Pupuk Sriwijaya mendukung sepenuhnya peningkatan dan pengembangan kualitas kopi arabika Kintamani melalui program Agro solution. “Bila diperlukan kami siap mendukung kegiatan diluar aspek budidaya seperti pengembangan UMKM Kopi Arabika Kintamani melalui dana tanggung jawab sosial perusahaan (cSR).” tegas Robin Lee.

Sementara itu Ketua Kelompok Tani Dapdap Putih Desa Awan I Wayan Arsa menyatakan penggunaan pupuk produk PT. Sriwijaya untuk kopi arabika Kintamani sangat baik. “Tahun 2025 sebelum penggunaan pupuk saya hanya menghasilkan kopi hanya 1,5 ton dan tahun 2026 pasca ikut demplot kopi dikebun saya berproduksi mencapai3 ton. Jadi naik 100%, oleh karena itu salah seorang anggota kelompok tani saya sudah order satu truk, pupuk ini. Semoga PT Sriwijaya memberi kami harga bersahabat,” ujar Wayan Arsa. (IB 2)

Editor : Adi Purnama

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *