UNHI Gelar Ujian Terbuka Promosi Doktor I Putu Oka Swiranatha
DENPASAR, iBaliNews.Com – Universitas Hindu Indonesia (UNHI) menggelar Sidang Terbuka Akademik Ujian Promosi Doktor atas nama I Putu Oka Swiranatha, ST., M.Sos di Ruang Sidang Kampus UNHI Denpasar, Sabtu (22/08/2026).
Sidang dipimpin Dr. Cokorda Gde Bayu Putra selaku ketua SE.,M.Si bersama tim penguji yakni Prof. Dr. I Ketut Suda,M.Si selaku promotor sekaligus anggota penguji, Dr. I Komang Gde Santhyasa, S.T., M.T., selaku Ko promotor sekaligus anggota penguji, Prof. Dr. I Wayan Suparta, S.E., M.Si., selaku penguji internal sekaligus anggota, Dr. I Gusti Agung Paramitha, S.Ag., M.Si., selaku penguji internal sekaligus anggota, Dr. I Nyoman Sudanten, S.Ag., M.Si., selaku penguji internal sekaligus anggota. Selain penguji internal, UNHI juga menghadirkan penguji eksternal yakni Dr. I Kadek Pranajaya, S.T., S.H., M.T., M.Kn selaku Rektor Institut Desain dan Bisnis Bali.
Mengangkat Judul “Spiritualitas Candi Mengening di Desa Adat Saraseda Tampaksiring Gianyar (Perspektif Etnosains)”, I Putu Oka Swiranatha dalam pemaparan Disertasinya menyampaikan candi di Bali merupakan hasil evolusi arsitektur dan spiritualitas yang berakar dari punden berundak masa megalitikum untuk pemujaan roh leluhur.
Oka Swiranatha mengungkapkan alasan pemilihan tema candi dalam disertasi yang berangkat dari keprihatinan terjadinya desakralisasi terhadap bangunan yang sarat akan makna sejarah tersebut.
Keberadaan candi disebutnya merupakan sebuah objek, atau dalam masyarakat menyebutnya sebagai prasada (Pralingga Ida Betara). Hal tersebut menandakan candi merupakan sebuah objek yang disucikan, seperti terdapat bangunan pelinggih ada meru, padmasana dan konsep tersebut yang digali dan dituangkan dalam karya tulis penelitian.
“Candi bukan sekadar bangunan arsitektur kuno, bukan sekadar bangunan yang menampilkan keindahan, tetapi ada nilai-nilai spiritualitas dalam artian menyeluruh. Bentuknya sendiri menampilkan keharmonisan, konsepnya sendiri didasarkan kepada konsep-konsep Vastu Purusha Mandala, Silpasastra, kitab-kitab suci yang ada sebagai konsep dasar gagasan candi, kemudian diterjemahkan ke dalam Asta Kosala Kosali, dan itu membentuk kesatuan ruang yang memang disintesis oleh masyarakat pengempon sebagai sebuah bangunan pelinggih utama.” Ujar Swiranatha disela sidang terbuka.
Dijelaskanya, nilai spitualitas tersebut menjadi konsep titik tolak dan kajian dasar dari karya disertasinya.
“Kemudian di situ ada etnosains. Masyarakat sendiri punya pemahaman tersendiri, dan itu kami gali sebagai sebuah konsep dasar yang mana akan membangun sebuah produk kajian tersendiri bahwa masyarakat itu mengharmonisasikan antara lingkungannya dengan konsep petirtaan yang ada di bawah, kemudian ada candi di bagian utama mandala. “Terangnya.
Mengingat candi yang bukan hanya sekadar bangunan kuno, melainkan monumen yang sarat akan nilai dan filosfis, Swiranatha menyangkan akan adanya bangunan – bangunan mangkrak yang kerap disebut sebagai sebuah candi.
“Saya menyayangkan bangunan-bangunan yang mangkrak dan lainnya itu diasumsikan sebagai candi. bahasa gini sama dengan orang yang kurang gitu.” Cetusnya.
Ia memiliki harapan besar untuk bisa mengangkat nilai-nilai spiritualitas dari candi, seperti yang dilakulan Pemerintah melalui Kementerian Kebudayaan merevitalisasi Candi Prambanan untuk dibangun kembali dan juga disertai upacara ngenteg linggih .
“Harapan saya ke depan, candi yang merupakan warisan budaya di Indonesia dan juga India pun ternyata belajar candinya dari Indonesia itulah ke depannya mari kita mencoba menggali warisan budaya leluhur. Bukan mengkultuskan agama Hindunya, tetapi itu sebuah konsep warisan budaya yang dibuat oleh leluhur kita, yang dibuat yang harus kita hargai sekarang.” Harapnya.
Salah satu anggota penguji, I Gusti Agung Paramita menyinggung soal penempatan aspek fisik dan komersial dari candi yang melampaui dari aspek spiritual itu sendiri, bahkan nilai kesucian itu sendiri. Mantan Wartawan terssebut lantas menanyakan soal rekomendasi apa yang bisa diberikan kepada pihak berwenang dalam pengelolaan candi,merawat, melindungi, dan menjaga dimensi spiritualitas dari candi itu sendiri.
Menjawab pertanyaan tersebut, Oka Swiranatha menyampaikan rekomendasi untuk dapat meniru seperti yang dilakukan di Pura Taman Ayun, dimana masyarakat yang hanya tujuan berwisata tetap dapat menikmati religiusitasnya, menikmati konsep keindahannya, namun tidak bisa menyentuh areal suci Utama Mandala.
“Nah, di sinilah, jangan kita terdegradasi nilai kesucian itu hanya sebatas komersial” Tegas pria yang memiliki kompetensi Asesor Arsitek Utama dari BNSP tersebut.

Dalam penyampaian putusan hasil sidang dewan penguji yang dibacakan Dr. Cokorda Gde Bayu Putra, Promovendus I Putu Oka Swiranataha dinyatakan dapat diterima disertasinya dan dinyatakan lulus dengan predikat cum laude. (iB01-478)*



