EkonomiOpiniPariwisataPendidikan

SDM Pariwisata Indonesia di Titik Krusial, Antara Gelombang Inovasi dan Jurang Kesenjangan

Oleh: Dr. I Made Darsana, SE.,MM.

Dosen: Institut Pariwisata dan Bisnis Internasional

Sektor pariwisata Indonesia kembali menggeliat dengan optimisme yang kuat. Setelah terpukul oleh pandemi, industri ini menunjukkan tanda-tanda pemulihan signifikan. World Travel & Tourism Council (WTTC) merilis bahwa pada tahun 2024, sektor pariwisata Indonesia mampu menciptakan lebih dari 12,5 juta lapangan kerja, menandai tonggak penting dalam kebangkitan ekonomi nasional (Travel Daily News Asia, 2024). Data Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif bahkan mencatat total 25,01 juta pekerja pariwisata pada tahun yang sama, meningkat sekitar 2,5 persen dibandingkan tahun sebelumnya (Ketik.com, 2024). Fakta ini menegaskan bahwa sektor pariwisata memiliki daya dorong besar dalam menciptakan kesempatan kerja dan meningkatkan produk domestik bruto (PDB) nasional. Namun, di balik euforia angka tersebut, tersimpan tantangan serius yang perlu diwaspadai. Ketersediaan SDM dalam jumlah besar belum tentu menjamin kualitas dan daya saing. Kesenjangan keterampilan, ketimpangan wilayah, serta rendahnya kesiapan dalam menghadapi transformasi digital menjadi persoalan struktural yang dapat menghambat pertumbuhan pariwisata yang berkelanjutan. Tanpa penguatan SDM yang adaptif dan berdaya saing, Indonesia berisiko tertinggal dalam arus inovasi global yang kian cepat.

Kesenjangan Keterampilan

Kualitas SDM pariwisata Indonesia masih menghadapi kesenjangan signifikan. Survei dan kajian empiris menunjukkan bahwa sebagian besar tenaga kerja di sektor ini belum memperoleh pelatihan bersertifikat, dan hanya sebagian kecil perusahaan yang aktif menyelenggarakan program peningkatan keterampilan (Putranto, Astuti, & Halawa, 2024). Kondisi ini memperlihatkan betapa pentingnya program pelatihan berkelanjutan (upskilling) agar SDM dapat menyesuaikan diri dengan tuntutan industri modern. Kesenjangan ini juga terlihat jelas pada aspek literasi digital dan kemampuan berbahasa asing, terutama di destinasi wisata baru di luar Bali dan Jawa. Penelitian di Nusa Tenggara Timur menunjukkan bahwa keterbatasan akses terhadap pelatihan dan sertifikasi masih menjadi penghambat utama pengembangan tenaga kerja pariwisata lokal (Putranto et al., 2024). Untuk mengatasinya, Kementerian Pariwisata meluncurkan sistem digital S-TUJU (Sistem Pelatihan Terpadu dan Uji Kompetensi) guna meningkatkan efektivitas serta transparansi proses pelatihan SDM (Liputan 6.com, 2023). Upaya ini menjadi langkah konkret dalam menjembatani kesenjangan kompetensi sekaligus memperluas jangkauan pelatihan hingga ke wilayah terpencil.

Baca Juga:  Jaga Estetika dan Keindahan Pariwisata, Bupati Badung Tertibkan Kabel Provider

Kesenjangan keterampilan bukan sekadar isu teknis, tetapi juga berdampak pada daya saing nasional. Kurangnya tenaga terampil menyebabkan standar layanan wisata tidak merata, menurunkan pengalaman wisatawan, dan menghambat posisi Indonesia di peta pariwisata global. Karena itu, peningkatan kualitas pelatihan, perluasan akses pendidikan vokasional, serta pembaruan kurikulum berbasis kebutuhan industri menjadi prioritas utama dalam pembangunan SDM pariwisata yang unggul dan berkelanjutan (Hendriati & Sya’rani, 2024).

Jerat Kondisi Kerja dan Badai Turnover

Selain masalah keterampilan, kondisi kerja di sektor pariwisata Indonesia juga menghadapi tantangan klasik berupa tingkat informalitas tinggi, upah rendah, dan ketidaksetaraan gender. Banyak posisi di sektor ini masih bersifat tidak tetap dan minim perlindungan sosial. Laporan Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) menunjukkan bahwa pariwisata secara global memang didominasi oleh pekerjaan yang tidak stabil dan berupah rendah, terutama bagi perempuan dan kaum muda (ILO, 2023). Fenomena ini juga terjadi di Indonesia, di mana banyak pekerja muda menempati posisi frontliner dengan tingkat turnover tinggi dan jenjang karier terbatas. Dampak turnover yang tinggi tidak hanya menambah biaya rekrutmen dan pelatihan baru, tetapi juga menyebabkan hilangnya pengetahuan institusional dan menurunnya standar pelayanan. Studi empiris pada industri perhotelan di Bali menunjukkan bahwa pelatihan dan motivasi karyawan memiliki pengaruh signifikan terhadap kinerja dan loyalitas tenaga kerja (Astina, Mariani, & Sudarmawan, 2023). Artinya, strategi peningkatan kesejahteraan dan pelatihan berkelanjutan harus ditempatkan sebagai prioritas utama dalam kebijakan manajemen SDM pariwisata.

Baca Juga:  UNHI Tegaskan Proses Seleksi Calon Rektor Berlangsung Profesional Dan Sesuai Dengan Statuta

Menunggangi Gelombang Teknologi: AI Bukan Sekadar Tren

Era digital telah membawa pariwisata ke fase transformasi baru. Inovasi teknologi, terutama kecerdasan buatan (AI), big data, dan sistem otomatisasi layanan, kini menjadi elemen kunci dalam peningkatan efisiensi dan pengalaman wisatawan. Penggunaan AI dalam sektor perhotelan, misalnya, memungkinkan personalisasi layanan tamu, pengelolaan operasional yang lebih efisien, dan prediksi tren wisata yang lebih akurat (Kalsum, Pramesworo, Yuli, & Mursalin, 2024). Namun, teknologi tidak dapat berjalan tanpa kesiapan SDM yang mampu mengelolanya. Tantangan terbesar bagi Indonesia adalah memastikan pekerja pariwisata memiliki literasi digital yang memadai dan mampu beradaptasi dengan sistem digital baru. Program pelatihan berbasis teknologi digital seperti yang dikembangkan di Bali oleh Institut Pariwisata dan Bisnis Internasional menjadi contoh baik bagaimana pendidikan vokasional dapat bersinergi dengan kebutuhan industri (Aksenta et al., 2023). Dalam konteks ini, AI dan inovasi digital bukan lagi tren sesaat, melainkan mesin transformasi menuju pariwisata yang lebih efisien, berdaya saing, dan berkelanjutan.

Kolaborasi dan Pengembangan Kompetensi: Merajut Harapan Baru

Di tengah tantangan besar, muncul berbagai inisiatif yang memberikan secercah harapan. Pemerintah melalui program “Learning for Life (L4L)” terus mendorong kewirausahaan dan pemberdayaan masyarakat pariwisata melalui pelatihan berbasis kebutuhan lokal (Media Indonesia, 2024). Selain itu, kolaborasi internasional antara lembaga pendidikan Indonesia seperti IPTI dengan BHMS Swiss berperan penting dalam memperkuat kompetensi global tenaga pariwisata nasional (Medcom.id, 2024). Kemitraan ini tidak hanya memperluas akses pendidikan berstandar internasional, tetapi juga memastikan transfer pengetahuan dan praktik terbaik bagi tenaga kerja muda Indonesia. Pemerintah juga mengembangkan peta jalan penguatan SDM melalui kerja sama lintas kementerian untuk memastikan pengembangan tenaga kerja di destinasi prioritas seperti Danau Toba dan Labuan Bajo (Lada, 2024). Dengan pendekatan kolaboratif ini, Indonesia berupaya menciptakan sistem pengembangan SDM pariwisata yang adaptif terhadap perubahan teknologi, inklusif terhadap keragaman wilayah, dan responsif terhadap kebutuhan industri global.

Baca Juga:  Prioritas Pengembangan Program Digital, Pemprov Bali Sediakan Wi-Fi Gratis

Indonesia Menjemput Era Emas Pariwisata yang Berkelanjutan

Melihat tren pertumbuhan tenaga kerja dan peningkatan kontribusi sektor pariwisata terhadap PDB nasional, masa depan industri ini terlihat menjanjikan. Oxford Business Group (2024) memproyeksikan bahwa kontribusi pariwisata terhadap ekonomi Indonesia akan meningkat hingga 5,1 persen pada 2024, didorong oleh kebijakan pemerintah dan diversifikasi destinasi. Namun, keberlanjutan pertumbuhan ini sangat bergantung pada kualitas SDM yang menjadi tulang punggung industri. Investasi dalam pengembangan SDM bukan hanya persoalan pendidikan, tetapi juga strategi ekonomi jangka panjang. Peningkatan keterampilan, penciptaan lingkungan kerja yang adil, dan penguatan literasi digital akan menjadi fondasi bagi pariwisata yang berdaya saing global. Jika semua pemangku kepentingan pemerintah, industri, akademisi, dan masyarakat—dapat bersinergi dalam agenda ini, maka Indonesia tidak hanya akan menjadi destinasi wisata kelas dunia, tetapi juga model pembangunan pariwisata berkelanjutan berbasis manusia. Kini saatnya mengubah jeritan senyap dari sektor SDM pariwisata menjadi nyanyian optimisme. Dengan strategi yang terintegrasi, teknologi yang dimanfaatkan secara cerdas, dan kebijakan yang berpihak pada pekerja, Indonesia dapat menjemput era emas pariwisata yang benar-benar berkelanjutan dan mendunia.

REFERENCE

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *