Bali

Kunjungan Mahasiswa D3 Perhotelan IPB Internasional Dalam Mengkaji Keberlanjutan Profesi Petani Garam Kusamba di Tengah Krisis Regenerasi

Oleh : Dr. I Made Darsana, SE.,MM.

Dosen Institut Pariwisata dan Bisnis Internasional

Kusamba, salah satu wilayah pesisir yang secara historis dikenal sebagai sentra produksi garam tradisional di Bali, kini menghadapi situasi yang mengkhawatirkan. Observasi lapangan yang dilakukan pada 2 Desember 2025 bersama mahasiswa D3 Perhotelan IPB Internasional menunjukkan bahwa aktivitas produksi garam di desa ini mengalami penyusutan drastis. Berdasarkan temuan di lapangan, hanya tiga kelompok petani garam yang masih aktif melanjutkan praktik tradisional yang telah berlangsung selama beberapa generasi. Temuan ini mengindikasikan bahwa keberlanjutan profesi petani garam di Kusamba berada pada titik kritis.

Dalam kunjungan tersebut, secara visual tampak bahwa sebagian besar lahan produksi garam telah mengalami penurunan fungsi. Beberapa area tampak tidak lagi digarap, ditumbuhi vegetasi liar, dan tidak terawat. Peralatan produksi seperti “pajenan”, “tapakan”, dan penampungan air laut tampak tua dan minim pemeliharaan, menandakan berkurangnya intensitas produksi. Di titik-titik yang masih aktif, terlihat bahwa pekerja yang terlibat didominasi oleh individu berusia lanjut, mayoritas berada pada rentang usia di atas 55 tahun. Fakta ini memperkuat asumsi akademik bahwa regenerasi tenaga kerja dalam sektor ini hampir tidak terjadi.

Dari hasil percakapan dengan beberapa petani, diketahui bahwa generasi muda Kusamba menunjukkan minat yang sangat rendah terhadap profesi ini. Mereka cenderung memilih pekerjaan di sektor pariwisata, perdagangan, atau jasa yang menawarkan pendapatan lebih stabil dan jam kerja lebih pasti. Secara sosiologis, fenomena ini dapat dijelaskan melalui shifting occupational preference, yaitu pergeseran preferensi pekerjaan akibat perubahan struktur ekonomi lokal. Profesi petani garam dipandang sebagai pekerjaan yang berat, berisiko tinggi, dan sangat bergantung pada kondisi cuaca, terutama dengan semakin tidak stabilnya pola iklim beberapa tahun terakhir.

Baca Juga:  Wabup Bagus Alit Sucipta Tinjau Lokasi Banjir di Kuta Utara

Secara ekonomi, petani garam di Kusamba menghadapi tantangan signifikan. Produksi hanya optimal pada musim kemarau panjang, sementara curah hujan yang tidak menentu membuat proses penguapan air laut menjadi tidak efisien. Dalam kondisi ideal, produksi per hari berkisar antara 30–50 kilogram, namun angka ini sangat fluktuatif. Dengan harga garam tradisional yang berada pada kisaran Rp 12.000–20.000 per kilogram, pendapatan yang diperoleh tidak cukup untuk menjadi mata pencaharian utama bagi keluarga muda. Hal ini menjadi salah satu faktor pendorong rendahnya regenerasi.

Mahasiswa yang mengikuti kunjungan tersebut berkesempatan mengamati proses produksi secara langsung. Dari perspektif akademik, pengalaman ini memberikan gambaran empiris tentang bagaimana rantai pasok produk lokal bekerja dan bagaimana sektor tradisional masih memainkan peran dalam ekosistem pariwisata Bali. Mereka menyaksikan bagaimana proses produksi garam di Kusamba dilakukan sepenuhnya secara manual, mulai dari pengambilan air laut, penyiraman pasir, pengeringan oleh sinar matahari, hingga pemanenan kristal garam. Keseluruhan proses tersebut menunjukkan nilai budaya dan pengetahuan lokal yang signifikan.

Baca Juga:  Gubernur Koster Dorong Percepatan Ekosistem e-Mobility

Keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan ini memiliki implikasi akademik sekaligus moral. Pertama, kunjungan tersebut memperluas pemahaman mereka tentang urgensi pelestarian praktik tradisional sebagai bagian dari keberlanjutan pariwisata. Dalam teori sustainable tourism, keberlanjutan tidak hanya meliputi aspek ekologis, tetapi juga mencakup keberlanjutan sosial budaya. Hilangnya profesi petani garam akan berdampak pada hilangnya intangible heritage yang menjadi bagian dari identitas lokal. Kedua, kegiatan ini menempatkan mahasiswa sebagai calon pelaku industri pariwisata untuk lebih memahami pentingnya integrasi antara sektor pariwisata modern dan produk lokal.

Rendahnya regenerasi petani garam di Kusamba memiliki implikasi strategis yang perlu diperhatikan oleh pemangku kepentingan. Jika tren ini berlanjut, Kusamba berpotensi kehilangan salah satu aset budaya dan ekonomi yang memiliki nilai historis dan daya tarik wisata. Dalam konteks perencanaan pembangunan daerah, kondisi ini dapat dikategorikan sebagai ancaman terhadap ketahanan ekonomi desa serta pelestarian warisan budaya. Diperlukan intervensi kebijakan yang menitikberatkan pada revitalisasi industri garam lokal, mulai dari dukungan peralatan, pemasaran berbasis digital, penguatan kelembagaan kelompok petani, hingga pengembangan wisata edukasi berbasis garam tradisional.

Baca Juga:  Gotong Royong Semesta Berencana, Bupati Adi Anawa Tanam Pohon Dan Bersih Sampah

Pengalaman lapangan pada 2 Desember 2025 ini diharapkan menjadi bahan refleksi bagi masyarakat luas. Ketika kebutuhan masyarakat terhadap garam tetap tinggi, namun pelakunya semakin sedikit, maka kesadaran kolektif perlu dibangun. Garam tidak sekadar komoditas, tetapi hasil dari kerja keras, kearifan lokal, dan identitas budaya. Keberpihakan masyarakat terhadap produk lokal menjadi bagian penting untuk memastikan profesi petani garam tetap bertahan.

Kusamba hari ini berada pada persimpangan. Di satu sisi, ia menyimpan tradisi berharga yang berpotensi menjadi daya tarik wisata edukatif kelas dunia. Di sisi lain, tanpa regenerasi, profesi petani garam dapat hilang dalam satu atau dua dekade ke depan. Observasi mahasiswa IPB Internasional menyajikan gambaran nyata tentang urgensi isu ini. Dengan demikian, pelestarian garam Kusamba bukan hanya isu lokal, tetapi sebuah panggilan bagi dunia pendidikan, pemerintah, industri pariwisata, dan masyarakat untuk memastikan bahwa tradisi yang tersisa ini tidak lenyap tanpa jejak.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *