Labdanation Fashion Week Season III, Dorong Industri Mode Berkelanjutan
DENPASAR, iBaliNews.Com — Ajang Labdanation Fashion Week Season 3 dengan tema “Threads of Legacy” resmi dibuka di Sira Village kawasan Kura-Kura Bali, Special Economic Zone, Rabu (28/10/2026). Ajang ini tidak hanya menampilkan kreativitas desain dan keindahan busana, tetapi juga menjadi momentum penting untuk mendorong industri tekstil dan mode yang ramah lingkungan serta berkelanjutan di Indonesia.
Direktur Utama PT Labda Anugerah Tekstil, Yusak Samadji Pranoto, S.E., menyatakan bahwa pencapaian ini merupakan buah dari komitmen perusahaan terhadap inovasi dan keberlanjutan.
“Sejak 2020, Labda tidak pernah berhenti berinovasi. Labdanation Fashion Week Season III dan upaya pemecahan rekor dunia Guinness ini membuktikan bahwa industri Indonesia mampu bangkit dan bersaing di pasar global. Ini bukan hanya tentang Labda, tetapi tentang membawa nama Indonesia ke panggung dunia melalui praktik bisnis yang bertanggung jawab dan berkelanjutan” ujar Yusak.
Senada dengan itu, Direktur Operasional PT Labda Anugerah Tekstil, Wijaya Ng, S.E., A.Md., M.Kom., menekankan pentingnya kolaborasi dan teknologi dalam acara ini.
“Rekor dunia ini akan menjadi bukti nyata dari kekuatan kolaborasi seluruh pemangku kepentingan yang diintegrasikan dalam satu event acara. Kami ingin menunjukkan kepada dunia bahwa kualitas, efisiensi, dan keberlanjutan dapat berjalan seiring. Kami mengundang seluruh pemangku kepentingan desainer, pelaku industri, hingga masyarakat untuk menjadi bagian dari perjalanan bersejarah ini, sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai pusat tekstil berkelanjutan dunia,” kata Wijaya.
Dukungan Penuh Kementerian Perindustrian
Sementara itu, Kepala Balai Besar Standarisasi dan Pelayanan Jasa Industri Tekstil (BBSPJI Tekstil) Kementerian Perindustrian RI, Agung Eko Pawoko, menyatakan dukungannya terhadap upaya peningkatan daya saing industri tekstil dalam negeri. Pemerintah, melalui kementerian, berkomitmen memberikan berbagai fasilitasi bagi pelaku industri, termasuk potongan pembiayaan sertifikasi dan dukungan fasilitas uji laboratorium.
”Kami di Bandung memberikan fasilitasi, terutama untuk UMKM seperti diskon pembiayaan 25%. Untuk sertifikasi industri hijau, tahap pertama bahkan diberikan gratis, di mana industri hanya perlu membayar biaya surveilen saja,” kata Agung.
Agung juga menanggapi tantangan serbuan produk tekstil bekas impor yang masuk ke pasar domestik. Ia menyebutkan bahwa pemerintah saat ini tengah menggodok regulasi khusus untuk memperketat pengawasan serta melindungi produk tekstil dalam negeri, termasuk rencana strategis untuk mendukung penguatan pabrik tekstil lokal.
Asopsi Praktik Ramah Lingkungan

Sekretaris Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) DKI Jakarta, Baari La Angi, dalam sambutannya menekankan pentingnya adopsi praktik ramah lingkungan di tengah industri mode.
”Semakin banyak perusahaan yang menerapkan praktik ramah lingkungan dan berkelanjutan, maka semakin besar pula peluang kita untuk membangun ekosistem tekstil dan fashion Indonesia yang kuat dan mampu menjawab kebutuhan pasar di masa depan,” ujar Baari La Angi.
Ia juga mengapresiasi ditampilkan 30 busana bersertifikasi dalam ajang tahun ini. Menurutnya, langkah ini membuktikan bahwa aspek keberlanjutan kini telah menjadi bagian nyata dari pengembangan produk mulai dari pemilihan material, proses produksi, hingga pemenuhan standar yang relevan. Selain itu, transformasi digital dan kolaborasi lintas sektor juga dinilai krusial untuk memperkuat daya saing industri tekstil nasional.
Antusiasme Pelaku Industri dan Pecinta Mode
Sementara itu, Direktur Sira Village, Steven Seng, menyampaikan antusiasmenya menyambut para pelaku industri dan pencinta mode di jantung kawasan pariwisata Bali.
”Fashion mengajak kita menghormati waritage (warisan), merangkul ide-ide baru, dan membuat pilihan penuh pertimbangan tentang dampaknya. Keberlanjutan adalah tentang apa yang kita ciptakan hari ini dan apa yang kita tinggalkan untuk generasi selanjutnya,” ungkap Steven Seng.
Ia menambahkan, Sira Village meyakini bahwa kemajuan industri mode harus berjalan selaras dengan upaya menjaga budaya, lingkungan alam, dan komunitas lokal Bali.
Apresiasi Industri Tekstil Lokal
Dari sisi pengujian dan standardisasi mutu, General Manager Testex, Pipit Fitriyani Hayati, turut memberikan apresiasi atas pencapaian para pelaku industri tekstil lokal yang telah mengantongi sertifikasi OEKO-TEX.
”Sertifikasi OEKO-TEX yang diraih bukan sekadar memenuhi persyaratan atau mendapatkan label, melainkan wujud building trust—mempromosikan keselamatan produk dan mengubah komitmen keberlanjutan menjadi aksi nyata,” jelas Pipit Fitriyani Hayati.
Ajang Labda Fashion Week Season III diharapkan dapat terus menginspirasi lebih banyak perusahaan di sektor tekstil dan mode untuk mengambil langkah nyata menuju masa depan yang lebih hijau, inovatif, dan berkolaborasi luas demi kemajuan industri mode Indonesia. (iB2/Del)





