Olahraga

Gelaran “Fight for a Cure” di Nuanu Bali : Galang Dana dan Respon Emosional Untuk Penelitian Kanker Dunia

TABANAN, iBaliNews.Com – Nuanu kembali menjadi tuan rumah bagi ajang amal bertajuk “Fight for a Cure”, sebuah perhelatan gabungan olah raga bela diri dan penggalangan dana untuk penelitian kanker, sabtu (03/10/2026).

Memasuki penyelenggaraan keempatnya serta tahun kedua yang berlokasi di Nuanu, acara ini berhasil menyedot perhatian dan kehadiran lebih dari 1.500 pengunjung.

​Direktur Brand & Communication Nuanu Creative City, Ida Ayu Astari Prada, mengungkapkan bahwa keputusan Nuanu untuk kembali memfasilitasi acara ini didasari oleh dampak positif (impact) nyata yang telah dihasilkan sejak tahun sebelumnya.  

​”Kami melihat impact-nya. Tidak hanya mendukung cancer research (penelitian kanker), tetapi kehadiran peserta (attendees) juga meningkat pesat. Kami bisa menyatukan banyak orang dan meningkatkan kesadaran (awareness) masyarakat mengenai kanker,” ujar Ida Ayu saat ditemui di sela-sela acara.  

Baca Juga:  Rip Curl Cup Padang Padang 2026, Wadah Generasi Penerus Menunjukan Performa Terbaik

​Ida Ayu menambahkan bahwa jumlah peserta dan penonton tahun ini mengalami peningkatkan signifikan dibanding tahun sebelumnya. Jika tahun lalu dihadiri sekitar 1.000 orang, tahun ini tercatat mencapai lebih dari 1.500 pengunjung.  

​Menggalang Dana Sejak 2022

​Founder Germ Cell, Kai Suteja, menjelaskan bahwa Fight for a Cure terus berkomitmen mengumpulkan dana riset kanker secara berkelanjutan. Sejak pertama kali digagas pada tahun 2022, ajang ini telah berhasil menyalurkan dana puluhan ribu dolar.  

Ki-Ka – Kai Suteja, Founder Germ Cell dan Ida Ayu Astari Prada, Direktur Brand & Communication Nuanu. Dok : ibalinews.com

​“Sejak 2022, kami telah mendonasikan senilai 83.000 dolar AS untuk penelitian kanker. Ini adalah gelaran Fight for a Cure yang keempat, dan tahun kedua kami berkolaborasi bersama Nuanu,” ungkap Kai.  

​Dalam ajang kali ini, terdapat 40 petarung (fighters) yang berasal dari 30 sasana (gyms). Cabang olahraga beladiri yang dipertandingkan meliputi Muay Thai, Tinju (Boxing), hingga Brazilian Jiu-Jitsu (BJJ).  

Baca Juga:  Buka Porsenides Kekeran, Bupati Adi Arnawa Dorong Potensi Desa Wisata

​Peserta yang terlibat sangat inklusif, mencakup atlet amatir maupun profesional, pria dan wanita dari berbagai kelompok umur. Diperkirakan terdapat perwakilan dari 10 hingga 15 negara yang berpartisipasi dan meramaikan komunitas ini di Bali.  

​Emosional dan Personal

​Bagi para peserta maupun penyelenggara, Fight for a Cure bukan sekadar pertandingan olahraga biasa. Banyak dari petarung yang tampil memiliki ikatan emosional kuat karena pernah kehilangan anggota keluarga atau kerabat dekat akibat penyakit kanker.  

​”Banyak petarung di sini yang kehilangan sosok yang mereka cintai karena kanker. Ini adalah cara mereka untuk ‘merebut kembali kekuatan’ dan berjuang demi orang-orang tersayang,” tutur Kai.  

Baca Juga:  Nuanu Run Kembali Hadir di Tabanan: Perpaduan Lari, Seni, dan Alam di Bali

​Hal serupa diungkapkan oleh Ida Ayu Astari Prada, yang mengaku memiliki motivasi personal dalam mendukung penuh acara ini.  

​”Ibu saya meninggal karena kanker. Jadi secara personal, dedikasi saya di acara ini sangat mendalam. Walaupun acara ini diadakan di Bali, dampak dari penelitian kanker ini diharapkan bisa bermanfaat untuk seluruh dunia,” jelasnya.  

​Rencana Ekspansi ke Depan

​Melihat keberhasilan dan besarnya dukungan komunitas, pihak penyelenggara berencana untuk memperluas jangkauan kegiatan di masa mendatang.  

​Kai Suteja mengungkapkan keinginan untuk tidak hanya berfokus pada olahraga beladiri saja. Ke depan, Germ Cell berencana menggelar kampanye berbasis komunitas lainnya seperti Run for a Cure (lari) atau Dance for a Cure (tari) agar bisa merangkul lebih banyak elemen masyarakat untuk mendukung perjuangan melawan kanker.  (iB1 / Lan)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *