BaliOpiniPariwisataPendidikanSeni Budaya

Merumuskan Indikator Tri Hita Karana Untuk Pondok Wisata Berkelanjutan

Oleh: Dr. I Made Darsana, SE.,MM.

Dosen Institut Pariwisata dan Bisnis Internasional

Pariwisata Bali tidak hanya dikenal karena keindahan alam dan kekayaan budayanya, tetapi juga karena landasan nilai yang menjiwainya, yaitu Tri Hita Karana (THK). Filosofi hidup masyarakat Bali ini menekankan pentingnya keseimbangan dan keharmonisan hubungan manusia dengan Tuhan (Parhyangan), dengan sesama manusia (Pawongan), dan dengan alam lingkungan (Palemahan). Selama lebih dari dua dekade, konsep THK telah menjadi pijakan dalam pengelolaan pariwisata Bali, terutama pada sektor perhotelan. Namun, perkembangan pariwisata berbasis masyarakat mendorong tumbuh pesatnya pondok wisata atau homestay sebagai bentuk akomodasi alternatif. Berbeda dengan hotel, pondok wisata dikelola dalam skala kecil, menyatu dengan rumah dan kehidupan pemiliknya, serta memiliki interaksi yang sangat intens dengan masyarakat desa. Ironisnya, hingga saat ini indikator penerapan Tri Hita Karana yang spesifik untuk pondok wisata belum tersedia secara baku, sementara indikator THK yang ada masih berfokus pada hotel.

Kondisi inilah yang melatarbelakangi pelaksanaan Focus Group Discussion (FGD) dalam rangka penelitian Tugas Akhir Program Doktor Terapan Bisnis Pariwisata Pascasarjana Institut Pariwisata dan Bisnis Internasional. Penelitian ini mengangkat tema model penerapan Tri Hita Karana dalam pengelolaan pondok wisata berkelanjutan, dengan studi kasus Pondok Wisata Song Broek di Desa Melinggih, Kecamatan Payangan, Kabupaten Gianyar. FGD diselenggarakan sebagai tahap awal penelitian dengan tujuan mengidentifikasi indikator penilaian penerapan THK dalam pengelolaan pondok wisata. Diskusi melibatkan akademisi, pengelola pondok wisata, praktisi pariwisata, asosiasi industri, Yayasan Tri Hita Karana Bali, serta asesor THK. Kolaborasi ini diharapkan mampu menghasilkan indikator yang tidak hanya valid secara akademis, tetapi juga realistis dan mudah diterapkan di lapangan. Pendekatan yang digunakan dalam identifikasi indikator adalah mengadopsi dan memodifikasi indikator THK hotel yang tercantum dalam Buku Tri Hita Karana Award (2019). Indikator yang dinilai relevan dengan karakter pondok wisata dipertahankan, sementara indikator yang kurang sesuai disesuaikan atau dieliminasi. Selain itu, diskusi juga membuka ruang untuk penambahan indikator baru yang mencerminkan kekhasan pondok wisata sebagai usaha berbasis keluarga dan komunitas.

Baca Juga:  Nekat, Bule di Kuta Bawa Kabur Uang Senilai Rp. 191 Juta

Hasil diskusi menunjukkan bahwa penerapan Tri Hita Karana dalam pengelolaan pondok wisata tetap berlandaskan pada tiga aspek utama, namun dengan penekanan yang berbeda dibandingkan hotel. Pertama, aspek Parhyangan. Pada pondok wisata, aspek ini menekankan penghormatan terhadap nilai-nilai kesucian dan praktik keagamaan. Indikatornya antara lain keberadaan dan pemeliharaan tempat suci (pura), keterlibatan pengelola dan karyawan dalam kegiatan keagamaan desa, serta pemberian kesempatan kepada karyawan untuk menjalankan kewajiban religiusnya. Penting pula ditegaskan bahwa simbol dan benda sakral tidak digunakan sebagai dekorasi komersial, serta adanya upaya memperkenalkan nilai Tri Hita Karana kepada wisatawan secara sederhana dan edukatif.

Baca Juga:  Mekepung Lampit 2025 , Ajang pelestarian atraksi tradisi budaya Jembrana

Kedua, aspek Pawongan. Aspek ini menjadi kekuatan utama pondok wisata karena berorientasi pada hubungan sosial dan pemberdayaan masyarakat. Indikatornya mencakup prioritas penggunaan tenaga kerja lokal, hubungan harmonis antara pemilik, karyawan, dan masyarakat desa, serta partisipasi aktif dalam kegiatan banjar dan desa adat. Pondok wisata juga dinilai dari kontribusinya dalam membuka ruang interaksi sosial, menyediakan produk kuliner dan suvenir lokal, memberikan kesempatan magang atau kerja praktik, hingga membangun kerja sama dengan destinasi wisata dan pelaku seni budaya setempat.

Ketiga, aspek Palemahan. Dalam skala pondok wisata, aspek lingkungan difokuskan pada praktik sederhana namun konsisten. Pengelolaan sampah dengan pemilahan organik dan anorganik, pengurangan plastik sekali pakai, efisiensi penggunaan air dan energi, serta pelestarian tanaman lokal menjadi indikator utama. Selain itu, penting pula memastikan tidak adanya konflik lingkungan dengan masyarakat sekitar dan kepatuhan terhadap ketentuan perizinan yang berlaku.

Melalui Focus Group Discussion (FGD) ini, diharapkan lahir indikator Tri Hita Karana yang benar-benar sesuai dengan karakter pondok wisata sebagai usaha pariwisata berbasis keluarga dan desa. Indikator tersebut tidak dimaksudkan untuk menambah kerumitan administrasi bagi pengelola, melainkan sebagai panduan praktis yang membantu menjaga keseimbangan antara kepentingan ekonomi, keharmonisan sosial, dan kelestarian lingkungan. Hasil identifikasi indikator ini juga diharapkan dapat menjadi pijakan awal dalam menyusun model pengelolaan pondok wisata berbasis Tri Hita Karana. Ke depan, bukan tidak mungkin model ini berkembang menjadi sistem penilaian atau akreditasi khusus bagi pondok wisata di Bali, yang adil, kontekstual, dan mudah diterapkan oleh masyarakat desa sebagai pelaku utama pariwisata. Dengan pendekatan tersebut, pondok wisata tidak lagi dipahami semata-mata sebagai tempat bermalam bagi wisatawan, tetapi sebagai ruang perjumpaan budaya, tempat wisatawan belajar menghargai nilai-nilai lokal, dan masyarakat desa meneguhkan identitasnya di tengah arus pariwisata global. Di ruang inilah praktik pariwisata berkelanjutan menemukan maknanya yang paling nyata. Pada akhirnya, penguatan penerapan Tri Hita Karana dalam pengelolaan pondok wisata merupakan bagian dari upaya menjaga jati diri pariwisata Bali. Melalui langkah-langkah sederhana namun konsisten yang tumbuh dari desa, pariwisata Bali diharapkan terus berkembang tanpa tercerabut dari akar budaya, nilai kemanusiaan, dan keharmonisan dengan alam yang selama ini menjadi kekuatannya.

Baca Juga:  Gubernur Koster Akan Bentuk Sistem Perlindungan Terpadu  di Seluruh DTW

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *