Aksi Nyata Finns Bali Olah Sampah Berbasis Sumber, Hanya Buang 5 Persen Sampah ke TPA
BADUNG, iBaliNews.Com – Menjaga Bali agar tetap indah bukan sekadar tempelan slogan di spanduk promosi. FINNS Bali membuktikan bahwa pariwisata bisa berjalan seiring dengan kepedulian lingkungan.
Melalui manajemen sampah berbasis sumber dan sederet program sosial, destinasi hiburan kelas dunia ini mampu memangkas sampah yang berakhir di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Suwung hingga tinggal 20 persen.
Targetnya di tahun 2026 hanya 5 persen sampah yang masuk ke TPA.
“Ini perjalanan panjang, tapi hasilnya nyata. CSR saja tidak cukup, Bali butuh komitmen ESG yang serius,” ujar Direktur Finns Bali, Wayan Asrama.
Untuk menopang target besar itu, FINNS membangun fasilitas pemilahan seluas 200 meter persegi dengan kapasitas 5 ton sampah per hari.
Dari sini, lebih dari 1 juta kilogram sampah berhasil dialihkan dari TPA—setara berat 200 ekor gajah.
Di sisi lain, Finns Bali memiliki robot mungil bertenaga listrik yang mampu mengangkat puntung rokok, plastik kecil, hingga pecahan botol yang sering tersembunyi di bawah pasir yang diberi nama Bebot.
Wakil Bupati Badung, Bagus Alit Sucipta, yang hadir bersama Duta Sampah Kabupaten Badung, Ny. Rasniathi Adi Arnawa, mengapresiasi langkah ini.
“Sampah yang berakhir di TPA tinggal 5 persen Ini luar biasa. Apalagi BeBot bisa menyedot sampah kecil di pasir. Teknologi ini bisa jadi acuan kami ke depan,” katanya.
Komitmen keberlanjutan FINNS tak berhenti di pengelolaan sampah. Di bidang sosial, mereka menggandeng Stella’s Child untuk melatih lebih dari 250 anak muda kurang mampu di bidang kewirausahaan dan perhotelan.
Bersama SoleFamily, ribuan paket makanan disalurkan selama hampir satu dekade. Sementara lewat program Kids’ Fun Days, lebih dari 400 anak berkebutuhan khusus bisa menikmati hiburan ceria di Bali.
Di ranah lingkungan, 800 mangrove dan 750 terumbu karang sudah ditanam untuk melindungi garis pantai dan habitat laut. Donasi dari tamu juga mencapai hampir Rp720 juta, disalurkan ke NGO dan komunitas lokal.
Tak ketinggalan, transportasi publik gratis FINNS Loop hasil kerja sama dengan Grab sudah mengangkut 20 ribu penumpang—setara dengan populasi satu kota kecil.
Dengan tenaga kerja lokal sebanyak 2.038 orang, Finns tidak hanya jadi tempat hiburan, melainkan juga sumber penghidupan bagi ribuan keluarga di Bali.
“Lebih dari 2.000 keluarga bisa hidup layak sekaligus berkontribusi pada komunitas mereka,” tambah Wayan Asrama.
Manager ESG Finns Muhammad Abdul Manaf, menegaskan keberhasilan program ini terletak pada kombinasi manusia dan teknologi.
“Sampah organik dan anorganik dipisah dari awal. Plastik, kaleng, kardus, kertas, semua dipilah untuk didaur ulang. Lalu bebot membantu di pesisir pantai. Tapi tetap, kolaborasi manusialah yang membuat sistem ini efektif,” ujarnya.
Lewat sederet capaian ini, Finns Bali ingin membuktikan bahwa bisnis, budaya, dan alam bisa tumbuh bersama. Harapannya, semakin banyak wisatawan datang, semakin kuat pula misi keberlanjutan ini. LAN





